AYOJAKARTA.COM — Selain joki masuk perguruan tinggi negeri, war tiket konser, atau game online, warganet dibuat tercengang dengan munculnya istilah joki Strava.
Sebagaimana lazimnya orang pengganti dalam sejumlah bidang tertentu, istilah joki Strava mengacu pada aktivitas tertentu yang dilakukan seseorang demi orang lain.
Dengan menggunakan bantuan aplikasi tertentu, seorang joki Strava akan melakukan permintaan pelanggan untuk mendapat imbalan sesuai kesepakatan.
Munculnya aktivitas joki Strava merupakan bentuk respon dari kebiasaan banyak kalangan yang mengunggah aktivitas olahraga seperti jogging, bersepeda dan sejenisnya.
Rute, jarak tempuh serta kecepatan seseorang saat melakukan aktivitas olahraga seringkali menjadi materi unggahan di media sosial.
Berbekal unggahan dari rekaman pada aplikasi Strava tersebut, warganet lain kemudian banyak memberi apresiasi dan bahkan pujian.
Baca Juga: Dicurigai Jadi Joki, Penyandang Disabilitas Tuna Rungu Dipaksa Copot Alat Bantu Dengar Saat SNBT
Keinginan untuk bisa mendapat penghargaan atau pujian tanpa harus benar-benar melakukan aktivitas olahraga tersebut, menjadi pasar utama bagi para joki Strava.
Dalam melakukan pekerjaannya, para joki Strava akan menawarkan sejumlah hal unik serta khusus menyangkut hasil rekaman data pada aplikasi Strava.
Selain kecepatan, waktu serta jarak tempuh, para joki Strava juga terkadang menyediakan layanan membentuk pola wajah atau tulisan melalui rute yang dilalui.
Kehadiran Joki Strava, bagi sebagian orang yang memiliki kecenderungan haus validasi dan penghargaan atau fear of missing out merupakan jawaban paling dibutuhkan.
Dengan memanfaatkan jasa joki Strava, pengguna jasa tidak harus merasakan kelelahan sementara melalui hasil unggahan tetap bisa mendapatkan pujian.
Namun bagi sebagian orang, munculnya joki Strava merupakan akibat adanya pergeseran pemahaman masyarakat tentang makna olahraga.
Karena adanya perbedaan pemahaman tersebut, munculnya pekerjaan sebagai joki Strava ikut membawa sejumlah dampak tersendiri bagi kalangan warganet.
Baca Juga: Mahasiswa ITB Jadi Joki Tes CPNS 2023, Kampus Buka Suara: Bukan Cerminan Institusi
Menurut salah seorang warganet pemilik akun Instagram @*xmari*, menggunakan jasa joki Strava sama sekali tidak diperlukan karena dapat dikerjakan secara mandiri.
“Joki Strava buat pamer mending dikerjain sendiri, kalo cuma mau dipuji kencang dan jauh, ya tinggal naik ojek,” tulisnya melalui kolom komentar Instagram @jakarta.keras.
Munculnya joki Strava, menurut seorang warganet pemilik akun @*aftar_im* bukan merupakan hal yang patut dikuatirkan.
Selama pengguna jasa dan penyedia jasa sama-sama mendapat keuntungan, fenomena keberadaan joki Strava tidak perlu dipersoalkan.
Fenomena keberadaan joki Strava, oleh warganet lainnya dinilai merupakan suatu peluang lahirnya profesi sejenis untuk bidang-bidang lain.
“Joki Beban Hidup ada nggak?” komentar seorang warganet pemilik akun @*ianamaud* yang disukai ratusan warganet lainnya.***

Share this article
Selain joki masuk perguruan tinggi negeri, war tiket konser, atau game online, warganet dibuat tercengang dengan munculnya joki Strava.