AYOJAKARTA.COM – Indomie tentu saja telah diketahui oleh hampir seluruh lapisan rakyat Indonesia, tetapi belum tentu dengan nama Djajadi Djaja.
Mi instan ini lebih dikenal sebagai salah satu produk Salim Group, maka tidak banyak yang mengetahui bahwa Djajadi Djaja merupakan penggagas awal Indomie.
Sebelum Djajadi Djaja dikenal sebagai pemilik Mie Gaga, pengusaha ini sempat bersitegang dengan rekan bisnisnya yaitu Sudono Salim yang kini memiliki Indomie.
Lahir pada 1941, Djajadi Djaja mengawali karier pada 1958 sebagai seorang wiraswasta dan mendirikan FA Djangkar Djati pada 1964.
Baca Juga: 3 Strategi Diduga Digunakan untuk Mengeluarkan Djajadi Djaja dari Indomie: Awalnya Dapat...
Pada 1971-1978, Djajadi Djaja sempat menjabat sebagai Direktur PT Sanmaru Food Manufacturing.
Kehadiran Indomie bermula dari empat orang Tionghoa Medan yakni Djajadi Djaja, Wahyu Tjuandi, Ulong Senjaya, Pandi Kusuma yang membuat firma Djangkar Djati.
Dalam perkembangannya, Firma yang bergerak dalam bidang distribusi makanan dan rokok ini kemudian berganti nama menjadi PT Wicaksana.
Setelah keempat rekanan ini mendirikan Sanmaru Food Manufacturing, Indonesia Mie yang kemudian disingkat menjadi Indomie lahir pada 1972.
Baca Juga: Viral Mie Gaga vs Indomie, Begini Kisah di Balik Kesuksesan Indomie dan Beragam Prestasinya
Bersama perusahaan Djangkar Djati yang telah berganti menjadi PT Wicaksana, Djajadi Djaja berhasil membuat Indomie dikenal luas.
Varian Rasa Kaldu Ayam menjadi rasa pertama yang diluncurkan oleh Sanmaru, sampai kemudian lahir varian baru yakni Kari Ayam pada 1982.
Setelah mengeluarkan varian Mie Goreng pada 1983, sejumlah perusahaan kompetitor mulai banyak bermunculan.
Pemilik Perusahaan Sarimi Asli Jaya, yakni Sudono Salim alias Liem Sioe Liong yang saat itu menjadi pebisnis tepung terigu mulai mengeluarkan Sarimi untuk menyaingi Indomie.
Baca Juga: 6 Varian Rasa Indomie yang Tak Lagi Diproduksi, Sempat Booming Hingga Jadi Favorit
Akibat paceklik yang berdampak pada ketersediaan beras nasional, Sudono Salim berhasil meningkatkan produksi Sarimi hingga 100 juta bungkus per tahun.
Dengan alat canggih produksi Jepang, Sudono Salim berusaha keras menyaingi ketenaran Indomie.
Di tengah persaingan antara Indomie, Sarimi dan Supermi yang ketat, produksi pangan Indonesia kembali pulih.
Guna menyiasati kebutuhan dari mesin produksi mi yang harus berproduksi, Sadono Salim kemudian berhasil membujuk Djajadi Djaja untuk bekerja sama.
Baca Juga: Resep Indomie Bangladesh Viral ala Willgoz Penuh Rempah dan Kaya Rasa, Wajib Coba!
Pada 1984, PT Indofood Eterna kemudian beroperasi dengan komposisi kepemilikan saham 42,5 persen milik Sudono Salim dan 57,5 untuk Djajadi Djaja.
Setelah Supermi ikut bergabung dalam perusahaan PT Indofood, sembilan tahun kemudian kepemilikan saham Djajadi Djaja berubah hingga membuatnya tersingkir.
Pada Mei 1993, Djajadi Djaja mendirikan perusahaan PT Jakarana Tama yang menetaskan produk mi instan bernama Gaga.
Demikian dirangkum Ayojakarta pada Jumat 1 September 2023 dari YouTube Kamar Jeri.***

Share this article
Kisah Djajadi Djaja, pendiri Indomie dan pionir bisnis mi instan di Indonesia yang dipaksa hengkang dari Indofood.