AYOJAKARTA.COM -- Pembuatan tanggul raksasa di wilayah pesisir pantai, menjadi indikasi adanya ancaman serius bahwa DKI Jakarta mulai tenggelam.
Rendahnya pemukiman warga dibandingkan dengan tingginya permukaan air laut, disikapi Pemprov DKI Jakarta dengan membuat tanggul.
Akibat perubahan iklim, wilayah di sebelah Utara DKI Jakarta menjadi lokasi yang paling terdampak dengan meningkatnya permukaan air laut.
Sekitar 11 juta jiwa penduduk Jakarta Utara yang berdekatan dengan pesisir lautan, kini tengah terancam tenggelam.
Ancaman tersebut dirasakan betul oleh salah satu warga bernama Nur Khayatun yang tinggal di wilayah Blok Empang, Muara Angke, Jakarta.
Lokasi tempat tinggalnya yang berjarak sekitar 50 meter dari pesisir laut, membuatnya terpaksa hidup bersama genangan air laut.
Bedanya jika sebelumnya banjir rob datang hanya pada saat terjadi pasang air laut, sejak penghujung tahun 2019 banjir dialami setiap hari.
Meski sudah berupaya melakukan usaha-usaha dengan meninggikan permukaan tanah menggunakan puing, namun genangan air tidak bisa dicegah.
Pembangunan NCICD atau National Capital Integrated Coastal Development dinilai sebagai jalan keluar menghadapi situasi tersebut.
Sampai dengan tahun 2028 Pemprov DKI Jakarta berencana membangun tanggul sepanjang 4 kilometer yang mencakup 10 area pesisir.
Kamal Muara, Cengkareng Drain, Muara Angke, Muara Karang, Pantai Mutiara, Muara Baru, Sunda Kelapa, Kali Ancol Hilir, Kali Baru Cakung Drain, serta Kali Blencong.
Selain karena perubahan iklim yang membuat permukaan air laut meningkat, menurunnya permukaan tanah juga disebabkan karena penggunaan air tanah yang massif.
Selain kota Jakarta, kota lain di Indonesia yang mengalami penurunan tanah adalah ibukota Jawa Tengah, Semarang.
Semarang menempati urutan kedua di dunia sebagai kota yang paling cepat tenggelam dengan angka penurunan mencapai 3,96 centi per tahun.
Sementara DKI Jakarta yang menempati urutan ketiga dunia sebagai kota paling cepat tenggelam berada memiliki angka penurunan per tahun sebesar 3,44 centi.
Urutan pertama kota di dunia yang memiliki tingkat penurunan tanah paling tinggi adalah kota Tianjin, China dengan nilai sebesar 5,22 centi setiap tahun.
Data tersebut merupakan hasil studi yang kemudian diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letter.
Dari sebanyak 99 negara di seluruh dunia, jurnal tersebut menempatkan Indonesia dengan dua kota DKI Jakarta dan Semarang sebagai 10 negara paling cepat tenggelam.
Sedang urutan keempat hingga sepuluh masing-masing ditempati oleh Shanghai, Ho Chi Minh, Hanoi, Chittagong, Kobe, Kerala dan Houston.
Demikian 10 kota paling cepat tenggelam yang dirangkum Ayojakarta pada Rabu, 22 Maret 2023 dari akun instagram @localpridegarage.***(Karseno AJ)

Share this article
Lokasi tempat tinggalnya yang berjarak sekitar 50 meter dari pesisir laut, membuatnya terpaksa hidup bersama genangan air laut.