AYOJAKARTA.COM – Fenomena langka sekaligus mengkhawatirkan terjadi di Purwakarta, di mana pergerakan tanah hebat telah merusak sebanyak 48 rumah warga.
Bencana ini tidak hanya menimbulkan kerugian materi yang besar, tetapi juga mengancam keselamatan ratusan jiwa, memaksa banyak keluarga untuk mengungsi dan mencari tempat tinggal baru.
Warga yang terdampak pergerakan tanah di Desa Pasirmunjul, Kecamatan Sukatani, Purwakarta, diperkirakan mencapai lebih dari 150 jiwa atau sekitar 52 kepala keluarga.
Baca Juga: Infinix Note 60 Pro+ 5G Segera Debut di Indonesia, Berikut Bocoran Spesifikasi dan Harganya
Dari 48 rumah terdampak, 25 diantaranya mengalami kerusakan berat bahkan ambruk, sehingga banyak warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Pergerakan tanah ini biasanya terjadi akibat kombinasi faktor alam seperti curah hujan tinggi, kondisi tanah yang labil, serta aktivitas manusia yang memengaruhi kestabilan lereng atau tanah di daerah tersebut.
Namun, hingga saat ini, pemerintah Kabupaten Purwakarta masih melakukan penelitian terkait faktor penyebab pergerakan tanah yang terjadi di kabupaten tersebut.
Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, akan melakukan proses evaluasi dan penanganan rumah atau kawasan yang terdampak pergerakan tanah.
"Nah kita lihat kalau misalnya ini masih layak untuk ditempati ya kita coba tata kembali tata ulang Tapi kalau ternyata setelah hasil penelitian ini sudah tidak layak lagi nah kita relokasi karena enggak mungkin," ungkap Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, yang dikutip dari kanal YouTube tvOneNews pada Minggu 14 Juni 2025.
Jika setelah penelitian dan penilaian kondisi rumah atau lokasi tersebut masih layak untuk ditempati, maka akan dilakukan penataan ulang atau perbaikan.
Namun, jika hasil penelitian menunjukkan bahwa tempat tersebut sudah tidak layak huni, maka langkah yang diambil adalah relokasi warga ke tempat yang lebih aman demi keselamatan mereka.
Penanganan pergerakan tanah ini memerlukan koordinasi antara pemerintah daerah, BMKG, dan ahli geologi untuk melakukan pemantauan dan mitigasi risiko, seperti penguatan lereng, perbaikan drainase, serta relokasi warga jika diperlukan.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat tentang tanda-tanda awal pergerakan tanah penting untuk mengurangi risiko korban jiwa dan kerugian materiil. ***
Share this article
Fenomena langka sekaligus mengkhawatirkan terjadi di Purwakarta, di mana pergerakan tanah hebat telah merusak sebanyak 48 rumah warga.