AYOJAKARTA.COM - Belakangan ini, media sosial seperti TikTok ramai dengan narasi bahwa melemahnya nilai tukar Rupiah adalah kabar baik.
Beberapa pihak mengeklaim kondisi ini akan memajukan industri domestik dan membawa Indonesia menjadi negara maju.
Namun, pemikiran ini dibantah keras oleh konten kreator Ferry Irwandi. Melalui unggahannya, Ferry menegaskan bahwa anggapan tersebut adalah sebuah kekeliruan besar.
Ferry Irwandi menjelaskan bahwa depresiasi mata uang memang hal lumrah bagi negara maju yang mata uangnya sudah terlalu kuat.
Contoh klasiknya adalah Jepang yang perlu melemahkan mata uang agar produk ekspornya lebih kompetitif.
Namun, strategi ini tidak berlaku bagi Indonesia. "Gue merasa ini keliru dan perlu diluruskan," tegas Ferry dalam pernyataannya.
Menurut mantan ASN Kementerian Keuangan itu, Rupiah tidak perlu dilemahkan lagi karena pada dasarnya posisinya memang sudah lemah.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, pertumbuhan ekspor Indonesia hanya sebesar 0,90 persen.
Angka ini sangat jauh tertinggal dibandingkan pertumbuhan impor yang mencapai 7 persen.
Bahkan, Ferry Irwandi menyoroti fakta miris bahwa barang sederhana seperti korek api kayu pun Indonesia masih harus mengimpor dari Ceko.
Kenyataan ekonomi saat ini memang menunjukkan Rupiah berada di posisi tertekan.
Pada penutupan perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, nilai tukar Rupiah melemah ke level Rp17.706 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di angka Rp17.719 per dolar AS.
Pelemahan ini dipicu oleh faktor eksternal seperti kenaikan harga minyak dunia yang melampaui 100 dolar AS per barel akibat konflik di Timur Tengah.
"Sangat tidak masuk akal sekali, kita melemahkan rupiah untuk memajukan ekspor," ujar Ferry dalam video di media sosial Instagram pribadinya yang diunggah pada Selasa, 19 Mei 2026.
Ia juga mematahkan argumen bahwa melemahnya mata uang akan memaksa masyarakat untuk mandiri dan berinovasi.
Baginya, inovasi membutuhkan riset dan pengembangan (R&D) yang memerlukan waktu serta biaya yang sangat besar.
Ketika mata uang terus merosot, beban yang harus ditanggung masyarakat justru semakin berat.
Uang yang dikeluarkan untuk transaksi kebutuhan sehari-hari menjadi jauh lebih banyak.
Pelemahan ini juga mengancam ruang fiskal negara karena subsidi BBM bisa membengkak hingga Rp150 triliun seiring naiknya harga minyak.
Kondisi ini justru menghambat pertumbuhan, bukan mempercepat jalan menuju negara maju.***
Share this article
Ferry Irwandi bantah narasi viral TikTok bahwa Rupiah melemah itu baik. Data ekspor RI kecil (0,90%) dibanding impor (7%), bahkan korek api masih impor. Pelemahan justru bebani warga dan fiskal negara