AYOJAKARTA.COM - Peluncuran iPhone 17 yang seharusnya menjadi momen besar bagi Apple justru berbalik arah.
Alih-alih merayakan kesuksesan, perusahaan teknologi raksasa asal Cupertino itu tercatat mengalami kerugian pasar sebesar Rp1,6 triliun hanya dalam satu hari setelah perilisan.
Pertanyaan pun muncul, mengapa produk yang selalu ditunggu-tunggu justru berujung pada sinyal negatif bagi investor?
Baca Juga: Desain Kamera Belakang Disebut Mirip iPhone 17 Pro, Xiaomi 17 Pro Ternyata Punya Sentuhan Unik Ini
Menurut analis bisnis dan strategi, Raymond Chin, salah satu penyebab utama adalah hilangnya “wow factor” yang selama ini menjadi DNA Apple.
“Produk Apple sekarang cenderung hanya better, better but not different. Mereka tidak lagi memberi kejutan yang mind-blowing seperti era Steve Jobs,” jelas Raymond dalam video yang diunggah ke chanel YouTubenya.
Fenomena ini semakin diperparah dengan fokus Apple yang lebih condong ke kepuasan investor ketimbang pengalaman pengguna.
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan lebih banyak menggelontorkan dana untuk buyback saham dibanding riset dan pengembangan (R\&D).
Pada 2024, Apple menghabiskan 110 miliar dolar untuk membeli kembali sahamnya, sementara dana R\&D mereka hanya sekitar 30 miliar dolar.
Jika dibandingkan, Amazon mengalokasikan 85 miliar dolar, Google 45 miliar dolar, dan Meta 39 miliar dolar.
Strategi tersebut memang membuat harga saham Apple sempat melambung dan menjadikannya perusahaan dengan valuasi terbesar di dunia.
Namun kini posisinya tergeser ke peringkat ketiga, di belakang Microsoft dan Nvidia. Bagi banyak pengamat, hal ini menandakan bahwa Apple mulai kehilangan pijakan di arena inovasi.
Raymond Chin menambahkan, “Kalau dulu Apple menjual mimpi, sekarang mereka menjual margin. Dan ketika sebuah brand berhenti menghadirkan perbedaan, lama-kelamaan konsumen loyal pun bisa merasa skeptis.”
Kritik juga datang dari sisi produk. Siri, yang dulunya menjadi pionir asisten virtual, kini dianggap tertinggal jauh dari kompetitor.
Apple Intelligence yang digadang-gadang sebagai terobosan AI pun masih menuai gugatan terkait dugaan false advertising di Amerika Serikat.
Meski begitu, Raymond menekankan bahwa Apple masih jauh dari kata bangkrut. “Bagi investor, justru ini bisa jadi peluang. Secara fundamental, Apple tetap kuat. Hanya saja, mereka perlu menemukan kembali DNA inovasinya agar tidak kehilangan relevansi.”
Kasus iPhone 17 ini menjadi cermin bahwa bahkan raksasa sekelas Apple pun bisa goyah bila gagal beradaptasi. Pertanyaannya, apakah Apple mampu kembali ke jalur inovasi atau justru terus larut dalam strategi profit jangka pendek?***
Share this article
Apple rugi Rp1,6 triliun sehari usai rilis iPhone 17. Raymon Chin menilai inovasi menurun, fokus pada margin & investor. Apple masih kuat, tapi perlu temukan kembali DNA inovasinya.