AYOJAKARTA.COM - Memendam emosi dapat menyebabkan kondisi jiwa seseorang menjadi tidak seimbang, sehingga perlu dihindari untuk kesejahteraan diri sendiri.
Sayangnya, saat menghadapi berbagai permasalahan hidup, tidak jarang seseorang lebih senang memilih untuk memendam emosi sendirian.
Sehingga setiap kali diperlakukan tidak adil atau bahkan dizalimi, individu akan cenderung menanggapi dengan diam dan memendam emosi tanpa keberanian bersikap asertif.
Rasa takut, sedih, ragu, malu, marah dan berbagai tekanan emosi negatif akibat kebiasaan memendam emosi, merupakan hal yang bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri.
Sebab memendam emosi, dalam jangka panjang akan melahirkan rasa inferior atau ketidak berhargaan diri, rendah diri bahkan kebencian karena perasaan gagal dalam membela diri.
Memendam emosi setelah mengalami peristiwa tidak menyenangkan seringkali dianggap sebagai cara paling aman, sehingga banyak dijadikan sebagai pilihan.
Karena memendam emosi dapat menjadi kesalahan fatal, penting bagi setiap individu memiliki kemampuan mengenali emosi dan meregulasi.
Di samping dapat berdampak langsung pada kesehatan mental seseorang, memendam emosi juga bisa merusak setiap bentuk hubungan sehat di masa depan.
Dikutip dari kanal YouTube Pecinta Kucing, Senin (14/10/2024) kebiasaan menyangkal dengan setiap peristiwa yang dialami pikiran dan divalidasi oleh perasaan, akan membuat individu merasa tersisih dan terabaikan.
Meski dikelilingi dengan orang-orang terbaik di dalam hidup, individu yang cenderung memendam perasaan justru merasa tidak terhubung dan tersambung.
Akibatnya, individu yang senang memendam perasaan justru lebih cenderung tertutup, tidak jujur bahkan bisa melahirkan berbagai penderitaan bagi orang-orang terdekatnya.
Selain dapat merusak hubungan interpersonal dan sosial, kebiasaan memendam emosi juga bisa merusak hubungan istimewa antara individu dengan Dirinya Sendiri.
Dampak hubungan kurang baik antara seseorang dengan diri sendiri akan cenderung menjadikannya Manusia Berjiwa Kosong, sehingga selalu berusaha mengisi dengan validasi.
Demi bisa mendapatkan validasi eksternal, tidak jarang individu yang senang memendam emosi justru terjebak pada pola hidup dan rutinitas merusak serta destruktif.
Perasaan diri yang selalu diabaikan, tidak berharga, dan tidak layak bahagia, akan membuat individu menjadi mudah tertekan, dihantui rasa takut bahkan mengalami depresi.
Karena itu saat menghadapi situasi yang diluar kendali diri, seseorang perlu secara sadar merilis beban emosi agar tidak merusak setiap potensi kebahagiaan hidup di masa depan.
Disamping mulai curhat dengan orang terdekat, melepas beban emosi juga dapat dilakukan dengan journaling atau menulis setiap isi perasaan serta berkonsultasi dengan Ahli. ***

Share this article
Ternyata memendam emosi bisa menjadi bumerang dan mengganggu kesehatan mental diri sendiri loh, ini penyebabnya.