AYOJAKARTA.COM – Mati rasa sering dialami oleh banyak orang, namun seringkali kurang dipahami dan bahkan sering dikaitkan dengan depresi.
Apakah kamu pernah merasa bahwa meskipun berada dalam situasi yang seharusnya menyenangkan, justru tidak merasakan kebahagiaan?
Atau sebaliknya, kamu mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan namun tidak merasakan emosi apapun, seperti mati rasa?
Dr. Jim, seorang spesialis kedokteran jiwa, membahas tentang mati rasa yang bisa terjadi karena beberapa alasan.
Dilansir AyoJakarta.com dari video YouTube Jiemi Ardian yang diunggah 5 Mei 2024, berikut 3 alasan yang sebabkan kamu mati rasa:
1. Ancaman yang begitu besar
Salah satu alasan utama mengapa seseorang bisa mati rasa adalah sebagai respons terhadap ancaman atau perubahan yang dianggap terlalu besar bagi seseorang.
Ketika dihadapkan pada situasi yang terlalu sulit diatasi, otak kita memilih untuk memasuki mode "freeze" sebagai mekanisme perlindungan diri.
Hal ini memungkinkan kita untuk mengatasi emosi secara perlahan, tanpa terpukul secara tiba-tiba oleh rasa sakit yang berpotensi terlalu besar.
2. Akumulasi trauma dari masa lalu
Pengalaman traumatis di masa lalu juga dapat menjadi pemicu mati rasa di masa sekarang.
Misalnya, seseorang yang sering mengalami kesepian saat kecil mungkin akan merasa sangat terpukul ketika mengalami situasi yang serupa di masa dewasa.
Emosi yang tertanam dalam diri mereka sejak masa kecil memengaruhi cara mereka merespons situasi serupa di masa dewasa, sering kali dengan cara yang berlebihan.
Misalnya jika sejak kecil sering diabaikan, tentunya ketika dewasa mengalami putus cinta akan membuatnya begitu terpukul.
Baca Juga: Tes Penglihatan: Apakah Kamu Memiliki Analisis Baik? Coba Temukan Satu Bunga yang Tidak Sempurna
3. Pemblokiran dorongan alamiah
Mati rasa juga dapat terjadi ketika dorongan alamiah seseorang untuk melarikan diri atau melawan ditahan oleh pikiran mereka sendiri.
Sebagai contoh, seseorang mungkin merasa ingin melarikan diri dari situasi yang tidak nyaman, tetapi pikiran mereka menghambat dorongan tersebut, sehingga mereka masuk ke dalam mode "freeze".
Hal ini sering kali terjadi, sehingga ekspresi emosi atau keinginan seseorang diabaikan atau diremehkan.
Dr. Jim menegaskan pentingnya mendengarkan tubuh dan emosi kita, serta belajar untuk tidak selalu menekan atau meledakkan perasaan kita.
Baca Juga: Lulusan SMK Tak Bisa Daftar Sekolah Kedinasan? Cek Opsi Sekdin yang Terima Lulusan SMK di Sini
Jika mati rasa menjadi masalah yang berkepanjangan, ia menyarankan untuk mencari bantuan dari profesional untuk memulihkan keseimbangan emosional.
Dalam dunia yang serba cepat dan kompleks ini, kita seringkali mengabaikan pentingnya mengakui dan memahami perasaan kita.
Mati rasa bisa menjadi mekanisme pertahanan diri yang bermanfaat dalam jangka pendek, tetapi jika dibiarkan bisa menjadi penghalang dalam mencapai kesejahteraan emosional.
Oleh karena itu, mari kita belajar untuk mendengarkan dan menghormati perasaan kita, serta memberi diri kita kesempatan untuk pulih.***

Share this article
Pernah rasakan mati rasa terhadap orang lain? Benarkah tanda dari depresi? Ketahui lebih lanjut di sini