AYOJAKARTA.COM – Wilayah Timur Tengah termasuk Palestina, pada Perang Dunia I merupakan wilayah jajahan dari kerajaan Perancis dan Inggris.
Khusus untuk wilayah Palestina, daerah tersebut merupakan wilayah yang berada di bawah kewenangan Inggris.
Saat bangsa Yahudi mengalami genosida di Eropa, Inggris kemudian memberikan tempat tanah di Palestina hingga kemudian mengalami peningkatan populasi.
Baca Juga: Israel Sebut Tentaranya Tidak Sengaja Tembak Balita Palestina
Seiring pertumbuhan jumlah penduduk, bangsa Yahudi kemudian mulai mengakui bahwa Palestina merupakan tanah milik nenek moyangnya.
Pada 1947, melalui veto dari 181 negara di dunia PBB kemudian membagi wilayah Palestina menjadi dua bagian yakni wilayah Bangsa Yahudi dan Wilayah Bangsa Arab.
Sementara di bagian tepi barat ditetapkan sebagai wilayah internasional, karena merupakan tempat suci bagi umat Muslim dan Yahudi.
Veto yang diinisiasi PBB ditentang bangsa Arab sehingga Bangsa Yahudi kemudian mendeklarasikan berdirinya Negara Israel di tahun 1948.
Untuk memperbesar jajahannya, Israel pada 1967 menyerang Mesir serta Suriah yang dikenal dengan pertempuran 6 hari.
Dari peperangan tersebut, Israel kemudian menguasai Dataran Tinggi Golan, Tepi Barat Yerusalem serta Jalur Gaza.
PLO atau Palestine Liberation Organization yang merupakan Organisasi Pembebasan Palestina mulai melakukan aksi perlawanan.
Di tahun 1988 Yasser Arafat mendeklarasikan berdirinya negara Palestina, yang tidak kunjung menyudahi keinginan Israel untuk terus menjajah.
Intifada Pertama atau Pemberontakan Palestina mulai muncul hingga di tahun 1993 terjadi kesepakatan OSLO antara Palestina dengan Israel.
Baca Juga: HEBOH! Burung Gagak Terbang Lepas Bendera Israel dari Tiang, Benar Kuasa Allah?
Dari kesepakatan yang diprakarsai Amerika Serikat tersebut, Arafat mendapat hak untuk mengatur wilayah Gaza dan Tepi Barat.
Di tahun 2000, di Camp David kesepakatan tidak lagi berjalan lancar sehingga menimbulkan perlawanan Al Aqsa atau Intifada Kedua.
Enam tahun berselang, Organisasi Hamas memenangkan Pemilu untuk memimpin Palestina dan berjuang untuk mendapat dukungan PBB.
Baca Juga: Turki Kutuk Serangan Udara Israel di Jalur Gaza
Pada 30 September 2015, untuk pertama kalinya bendera Palestina berkibar di Markas PBB usai Palestina diakui sebagai negara Pengamat.
Konflik antara Hamas dengan Israel terus berlanjut, sampai kemudian pada Oktober 2023 berhasil melakukan penetrasi ke wilayah sengketa.
Bukan saja dengan serangan roket atau senjata berat, salah satu faktor keberhasilan Hamas adalah karena strategi perang yang berbeda.
Baca Juga: Lampu JPO di Jakarta Bakal Dinyalakan Bernuansa Bendera Palestina
Dengan menggunakan paragliding atau motor parasut, pasukan Hamas kemudian membuat tentara Israel terkejut.
Usai melakukan infiltrasi di barisan pertahanan musuh, barisan pejuang Hamas kemudian merangsek masuk dan menduduki pusat-pusat kota.
Demikian seperti dirangkum Ayojakarta pada Senin, 9 Oktober 2023 dari berbagai sumber. ***

Share this article
Pasukan Hamas menghebohkan dunia dengan infiltrasi ke wilayah pertahanan Israel tanpa menggunakan pesawat. Lalu dengan cara apa?