AYOJAKARTA.COM - Lailatul Qadar merupakan malam istimewa bagi umat Muslim yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Namun, tidak semua muslim dapat melaksanakan amalan prioritas seperti i'tikaf di masjid atau shalat malam, termasuk para wanita yang sedang mengalami haid.
Menanggapi pertanyaan seorang akhwat mengenai amalan yang dapat dilakukan saat mengalami haid pada malam Lailatul Qadar, Buya Yahya memberikan penjelasan komprehensif yang menenangkan.
Baca Juga: Rekomendasi Menu Sahur Sederhana: Nasi Goreng Bakso dan Tumis Sosis Sayuran, Cocok untuk Anak Kos
"Allah Maha Kasih dan kasih sayang Allah amat luas tak berbatas. Memang di sana ada beberapa amalan prioritas yang perlu kita utamakan seperti upayakan untuk bisa beri'tikaf di masjid, akan tetapi bagi orang yang tidak bisa beritikaf, bukan berarti Anda tidak bisa mendapatkan Lailatul Qadar," jelas Buya Yahya.
Beliau menekankan bahwa kasih sayang Allah sangat luas, tidak hanya terbatas pada mereka yang mampu melaksanakan ibadah tertentu.
Tetapi juga bagi siapapun yang berusaha mendekatkan diri kepada-Nya sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing, termasuk wanita yang sedang haid.
Menurut Buya Yahya, wanita yang sedang haid tetap dapat mengoptimalkan malam Lailatul Qadar dengan berbagai amalan yang tidak terhalang oleh kondisi haid.
Baca Juga: Wartawan AyoBandung Diduga Diintimidasi Pengawal Pribadi Bupati KBB
"Wanita haid ini hendaknya jangan menjadikan haid itu sebagai uzur untuk mendekatkan diri kepada Allah. Itu kan hanya urusan-urusan sedikit fiqih, urusan tidak boleh shalat, tidak boleh tawaf, akan tetapi untuk menyambung dengan Allah masih saja diperkenankan," tegas Buya Yahya.
Beliau mengimbau para wanita untuk tetap mempertahankan rutinitas ibadah mereka meskipun sedang haid.
Seperti bangun di waktu malam sesuai jadwal biasa, berzikir kepada Allah, bershalawat kepada Rasulullah SAW, dan beristighfar.
"Biarpun dalam keadaan haid, bangun malam sesuai dengan jadwal jam bangun. Sebab kalau sudah biasa bangun kemudian tidak bangun, apalagi hanya 14 hari, nanti disaat suci mulai kayak baru lagi, susah-susah bangun, tidak bisa istiqomah," tambah Buya Yahya.
Beliau juga menekankan bahwa aktivitas lain seperti melayani suami, menyiapkan makanan untuk keluarga, dan mengurus anak-anak juga merupakan amalan yang bernilai ibadah di sisi Allah SWT.
Buya Yahya menegaskan bahwa Allah sangat menghargai upaya dan niat hamba-Nya yang senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada-Nya meskipun memiliki keterbatasan.
Baca Juga: Kisah 3 UMKM Kuliner Indonesia yang Tembus Pasar Global berkat Dukungan BRI
"Kalau orang beritikaf di masjid, saya akan duduk di rumahku berdzikir kepada Allah. Karena Anda melakukan yang demikian, Allah Maha Kasih. Karena makna zikir Anda di malam itu adalah di samping makna dzikir dan kerinduan kepada Allah, di situ terlihat rasa rindu untuk bisa melakukan ibadah di masjid. Cuman karena dirimu haid, Allah Maha Tahu, diberi pahalanya orang i'tikaf," jelas Buya Yahya.
Beliau juga mengingatkan bahwa Lailatul Qadar tidak selalu jatuh pada 10 malam terakhir Ramadhan atau pada malam-malam ganjil saja, meskipun kemungkinannya lebih besar.
"Lailatul Qadar tersembunyi, bisa di malam pertama, tadi malam, bisa nanti malam, besok, besok, bisa-bisa sepanjang bulan Ramadhan. Dan 10 akhir Ramadhan adalah lebih diharap, di hari ganjilnya lebih banyak diharap, tapi bukan berarti Lailatul Qadar selalu di 10 akhir bulan Ramadhan dan bukan selalu di hari ganjil," ungkap Buya Yahya.
Oleh karena itu, beliau menganjurkan setiap muslimah, termasuk yang sedang haid, untuk senantiasa menghidupkan setiap malam Ramadhan dengan ibadah yang dapat dilakukan sesuai kondisi masing-masing.
Dengan harapan mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar yang sangat istimewa.***
Share this article
Menurut Buya Yahya, wanita yang sedang haid tetap dapat mengoptimalkan malam Lailatul Qadar dengan berbagai amalan