AYOJAKARTA.COM - Apabila di masa lalu pernah lalai dalam menjalankan salat, apakah harus diganti atau cukup bertobat kepada Allah SWT?
Ibadah salat hukumnya wajib dan merupakan ibadah yang langsung kepada Allah bahkan berdosa jika meninggalkannya.
Kendati demikian tidak sedikit orang yang melalaikan bahkan meninggalkan salat.
Dikutip AYOJAKARTA.COM dari YouTube Adi Hidayat Official pada Kamis (26/1/2023), berikut penjelasan Ustaz Adi Hidayat terkait meninggalkan salat di masa lalu.
Baca Juga: Ustaz Abdul Somad Jelaskan 12 Manfaat Doa Qunut, Salah Satunya Datangkan Rezeki Banyak dan Berkah!
Semua jenis maksiat baik terkait hubungan kepada Allah SWT yaitu ibadah atau terkait interaksi sosial dalam kemanusiaan, cara mengobatinya untuk kembali ke jalan yang benar adalah dengan bertaubat.
Adapun maksiat yang hubungannya dengan Allah contohnya meninggalkan salat.
Salat itu bagian pokok, bukti keimanan kepada Allah sebagaimana firman Nya:
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku," (Quran Surah Ta Ha ayat ke 14)
"Ada orang tak salat, menunda-nunda salat, salat semaunya. Ada pula orang yang mengerjakan salat subuh namun zuhur tidak, ini berarti dia melakukan maksiat kepada Allah dalam hal ibadah," ujar Ustaz Adi Hidayat.
Selanjutnya ada maksiat yang dilakukan anggota tubuh, melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.
Contohnya lisan seseorang berkata tidak baik atau mencela, padahal mencela dilarang oleh Allah SWT.
Sebagaimana firman Nya dalam Surah Al Hujurat Ayat 11, yang artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
Baca Juga: Bagaimana Hukum Wudu di Toilet atau WC? Jangan Sampai Keliru, Begini Kata Ustaz Abdul Somad!
Adapun cara untuk memperbaiki maksiat tersebut adalah dengan bertaubat.
Arti kata taubat adalah kembali ke jalan yang benar.
Secara istilah, taubat berarti kembali kepada Allah dengan melepaskan segala penyimpangan atau meninggalkan perbuatan dosa yang pernah dilakukan, kemudian bertekad untuk melaksanakan segala hak-hak Allah SWT.
Baca Juga: Bagaimana Hukum Puasa di Bulan Rajab? Ini Kata Ustadz Adi Hidayat: Tiada Hadits yang Merinci
Firman Allah dalam Surah An Nisa Ayat 17-18 yang artinya:
“Sesungguhnya bertobat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertobat. Tobat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (Surah an-Nisa [4] ayat 17)
“Dan tobat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan, “Saya benar-benar bertobat sekarang.” Dan tidak (pula diterima tobat) dari orang-orang yang meninggal sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih.” (Surah an-Nisa [4] ayat 18)
Sumber dari perbuatan tidak baik adalah dari nafsu yang digoda oleh setan.
Disampaikan oleh Ustaz Adi Hidayat bahwa unsur taubat ada tiga, yaitu:
1. Pengakuan
"Nah taubat itu, karena harus membuktikan kesungguhan untuk berubah maka harus menyentuh jiwa yang terdalam," tutur Ustaz Adi Hidayat.
"Harus ada unsur pengakuan yang muncul secara fitrah dengan sendirinya," lanjutnya.
"Jika pengakuan jadi pernyataan, Masya Allah itu sudah hidayah Allah SWT yang masuk ke dalam jiwa, maka jangan tinggalkan melainkan cepat ambil," nasihat beliau.
Baca Juga: Bahagia Itu Sederhana, Ustadz Adi Hidayat Bagikan Kuncinya!
2. Penyesalan
"Menyesali itu sudah sebagian perwujudan mengendalikan nafsu lawwamah, supaya tidak dibawa ke akhirat," terang Ustaz Adi Hidayat.
Nafsu lawwamah adalah nafsu atau ruh yang senantiasa menyesali, meratapi dan menyadari atas perbuatan dosa yang dilakukannya
"Jadi jika menyesalinya, maka akan digugurkan oleh Allah hal-hal terkait perbuatan maksiat yang dilakukan, sehingga lapang hatinya," tutur Ustaz Adi Hidayat.
Ciri orang tobat adalah lapang hatinya, ada ketenangan yang dirasakan yang tidak bisa dibandingkan dengan kesenangan ketika mendapatkan harta dunia.
"Penyesalan itu tidak hanya di lisan, tetapi sampai merasakan di hati ada kelapangan, merasa tenang, bisa membedakan benar dan salah," ujar Ustaz Adi Hidayat.
Baca Juga: Dilanda Gelisah? Baca Doa Penenang Hati dari Ustadz Adi Hidayat Ini Niscaya akan Merasa Tenang
3. Membuktikan perubahan dari hasil taubat itu dengan beramal saleh
"Mengganti perbuatan yang salah itu dengan amal yang sholeh," jelas Ustaz Adi Hidayat.
Berkaitan dengan seseorang yang melalaikan atau meninggalkan salat, maka di sinilah kemudian para ulama membimbing kita.
Pendapat pertama, cara memperbaikinya atau membuktikan taubatnya dengan mengganti salat yang ditinggalkan dengan mengqadha salat tersebut.
Mengqadha salat ketika ingat dan dilakukan di waktu-waktu tertentu yang bersamaan, misal qadha salat subuh dilakukan di waktu setelah melaksanakan salat subuh.
Pendapat kedua, pembuktian taubat dilakukan dengan memperbanyak salat atau ibadah sunah.
"Jadi dipersilahkan memilih nyaman yang mana untuk menunjukan ada perubahan dari taubatnya, semua mempunyai jalur yang dapat dipertanggung jawabkan secara syariat," kata Ustaz Adi Hidayat.
"Prinsipnya bukan persoalan apakah diganti menggunakan fardunya lagi atau cukupkan dengan yang sunah saja, bukan itu persoalannya, persoalan yang sejati adalah bagaimana kita membuktikan kepada Allah bahwa kita berubah," tegas Ustaz Adi Hidayat.***

Share this article
Simak penjelasan Ustaz Adi Hidayat jika meninggalkan salat di masa lalu, haruskah menggantinya dengan mengqadha?