AYOJAKARTA.COM - Jakarta kembali menjadi perbincangan warganet setelah sebuah video yang menampilkan kondisi ibu kota diselimuti awan rendah viral di media sosial.
Unggahan akun Instagram @baaperrun pada Jumat, 19 Desember 2025, memperlihatkan suasana Jakarta yang tampak cerah berawan sejak pagi hari. Fenomena tersebut menuai ratusan likes dan puluhan komentar karena dinilai tidak biasa dan menyerupai kabut tebal.
Namun, para ahli memastikan bahwa fenomena tersebut bukanlah kabut. Peneliti Klimatologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan awan rendah yang bergerak cepat.
Pergerakan awan ini menjadi indikasi adanya sistem badai berskala luas yang berpotensi memicu cuaca ekstrem. Menurut Erma, dinamika atmosfer seperti ini sering kali berkaitan dengan kemunculan awan Cumulus congestus yang bergerak agresif.
Awan rendah sendiri merupakan jenis awan yang berada pada ketinggian kurang dari dua kilometer di atas permukaan tanah. Berdasarkan literatur Bumi dan Antariksa (2021), awan rendah terbagi menjadi tiga jenis utama, yaitu Stratus, Nimbostratus, dan Stratocumulus.
Ketiganya memiliki karakteristik dan dampak cuaca yang berbeda. Awan Stratus adalah awan paling rendah, dengan ketinggian di bawah 1.000 meter.
Bentuknya tipis, berlapis, dan menyebar mengikuti arah angin. Awan ini biasanya menimbulkan cuaca mendung atau gerimis ringan akibat proses kondensasi di udara rendah.
Baca Juga: Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung: Perayaan Tahun Baru 2026 akan Dilakukan Sederhana
Sementara itu, awan Nimbostratus berada pada ketinggian 1.000 hingga 1.500 meter. Warnanya kelabu gelap, bentuknya tidak beraturan, dan berpotensi menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Adapun awan Stratocumulus berada pada ketinggian 1.500 hingga 2.000 meter. Awan ini berbentuk gumpalan berlapis menyerupai gelombang, berwarna putih keabu-abuan, dan umumnya hanya memicu hujan ringan atau bahkan tanpa hujan sama sekali.
Fenomena awan rendah di Jakarta juga tidak dapat dilepaskan dari kondisi atmosfer regional. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia.
Sistem ini berkontribusi terhadap peningkatan curah hujan, angin kencang, dan gelombang tinggi, terutama di wilayah barat Indonesia termasuk Jabodetabek. Selain bibit siklon, faktor monsun Asia dan seruakan udara dingin turut memperkuat pembentukan awan hujan.
Kombinasi kondisi tersebut membuat masyarakat di Jakarta dan sekitarnya perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat, banjir, dan gangguan aktivitas akibat cuaca ekstrem.***
Share this article
Fenomena awan rendah menyelimuti Jakarta viral di media sosial. Pakar menyebut kondisi ini bukan kabut, melainkan tanda sistem badai dan potensi cuaca ekstrem akibat dinamika atmosfer.