AYOJAKARTA.COM - TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat diklaim akan 'musnah' dalam jangka waktu dua tahun.
Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan (Zulhas).
Seperti diketahui, saat ini Jakarta menghadapi ancaman serius dalam pengelolaan sampah.
Setiap harinya, TPST Bantargebang harus menampung sekitar 7.500–8.000 ton sampah dari Jakarta.
Baca Juga: Khusus Nataru 2025-2026, LRT Jabodebek Terapkan Tarif Spesial Bagi Pelanggan, Catat Tanggalnya
Dengan luas lahan yang terbatas dan volume sampah terus meningkat, daya tampung lokasi tersebut kian mendekati batas maksimal.
Untung saja masih ada bantuan dari RDF Plant Rorotan yang turut menjadi tempat pengelolaan sampah di Jakarta.
Zulhas menyampaikan target dua tahun ini diharapkan bisa tercapai seiring dengan proyek strategis Danantara.
Diketahui, pemerintah bersama Denantara akan menjalankan investasi program pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy (WTE).
Zulhas mengklaim bahwa pengolahan sampah melalui teknologi WTE ini bisa menjadi solusi untuk mengatasi persoalan sampah perkotaan yang selama ini menumpuk di sejumlah daerah.
Baca Juga: Siapkan Dana Rp11 Miliar, Fadli Zon Sebut 100 Cagar Budaya Rusak Akibat Banjir Pulau Sumatera
Bukan hanya di Jakarta saja, TPST di sejumlah kota pun, seperti Bandung juga akan menerapkan teknologi WTE.
TPST Bantargebang sendiri telah beroperasi sejak 1989 dan kini menghadapi kondisi darurat.
Gunungan sampah di beberapa zona landfill sudah menjulang tinggi, bahkan melebihi batas ideal.
Jika pola pengelolaan sampah tidak berubah, Bantargebang dikhawatirkan tidak lagi mampu menerima kiriman sampah dalam waktu dekat.***
Share this article
Demi pengelolaan sampah yang baik, TPST Bantargebang bakal menggunakan teknologi energi listrik atau waste to energy (WTE).