AYOJAKARTA.COM - Memasuki bulan April, sebagian besar wilayah Indonesia umumnya mulai beralih dari musim hujan ke musim kemarau.
Namun, kondisi berbeda justru terjadi di DKI Jakarta yang masih kerap diguyur hujan, bahkan dengan intensitas cukup deras dalam beberapa hari terakhir.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat: mengapa hujan masih sering turun padahal seharusnya sudah memasuki musim kemarau?
Terkait hal ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa ada sejumlah faktor yang membuat wilayah Jabodetabek masih diguyur hujan jelang musim kemarau.

Menurut BMKG, periode April merupakan masa peralihan atau pancaroba, yakni transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.
Pada fase ini, kondisi cuaca cenderung tidak menentu dan dapat berubah secara cepat.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani menyampaikan bahwa wilayah Jabodetabek diprediksi masuk awal musim kemarau pada April-Mei 2026.
Perubahan musim ini akan berjalan secara bertahap.

Menurut Andri, hujan yang turun di awal April ini adalah kondisi umum yang dipengaruhi oleh pemanasan permukaan yang kuat pada siang hari sehingga memicu naiknya massa udara ke atmosfer.
Kelembapan udara yang relatif basah, disertai dengan tingkat kelabilan atmosfer dan indeks konvektif yang mendukung, menurut Andri, berperan dalam pertumbuhan awan hujan, khususnya di wilayah Jabodetabek.
Fenomena inilah yang berpotensi menimbulkan hujan lebat, kilat/petir, dan juga angin kencang.

Kemudian, sejak akhir Maret hingga awal April, aktivitas gelombang ekuatorial Rossby di wilayah Jabodetabek juga mendukung pertumbuhan awan hujan.
Sementara itu, BMGK juga memprediksi bahwa potensi hujan lebat masih akan terjadi di sejumlah wilayah Jabodetabek pada periode 4-6 April 2026.***

Share this article
BMKG menjelaskan bahwa ada sejumlah faktor yang membuat wilayah Jabodetabek masih diguyur hujan jelang musim kemarau.