AYOJAKARTA.COM - Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta terus memperkuat upaya pengelolaan sampah dari sumbernya melalui berbagai program berbasis masyarakat.
Salah satu langkah yang kini didorong adalah pemanfaatan biopori jumbo sebagai sarana pengolahan sampah organik di lingkungan permukiman warga.
Program ini menjadi bagian dari strategi Pemprov DKI Jakarta untuk mengurangi volume sampah yang dikirim ke tempat pengolahan dan pemrosesan akhir.
Melalui pendekatan tersebut, sampah organik yang dihasilkan rumah tangga dapat dikelola langsung di lingkungan tempat tinggal sebelum bercampur dengan jenis sampah lainnya.

"Melalui kolaborasi warga, sampah organik rumah tangga dapat dikelola lebih dekat dari sumbernya, sehingga membantu mengurangi beban sampah yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir," ujar Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Langkah ini menjadi bagian dari penguatan sistem pengelolaan sampah Jakarta agar semakin terintegrasi dari tingkat lingkungan hingga fasilitas pengolahan skala kota.
Berbeda dengan biopori pada umumnya, biopori jumbo ini dirancang untuk melayani sekitar dua rumah sekaligus.
Dengan kapasitas yang lebih besar, sampah organik dapat diolah lebih dekat dari sumbernya.

Target Pengolahan Sekitar Tiga Bulan
Proses pengolahan pada biopori ini diperkirakan berlangsung sekitar tiga bulan.
Namun, dengan penyempurnaan yang dilakukan, proses tersebut berpotensi berlangsung lebih cepat sehingga manfaatnya bisa dirasakan warga lebih awal.
DLH DKI Jakarta mengatakan bahwa Ingub Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber menjai dasar penguatan pemilahan dan pengolahan sampah di Jakarta.
Melalui gerakan ini, warga didorong untuk memilah sampah dari rumah dan mengolahnya sesuai dengan jenis sampah, termasuk sampah organik melalui biopori jumbo.

Bagian dari Sistem Pengelolaan Sampah Jakarta
Penanganan sampah dilakukan melalui berbagai pendekatan yang saling melengkapi.
Mulai dari pengolahan sampah di sumber, fasilitas pengolahan sampah menjadi energi, hingga fasilitas pengolahan dan pemrosesan sampah lainnya.
Jika seluruh sistem berjalan optimal, sekitar 9.000 ton sampah per hari yang dihasilkan Jakarta ditargetkan dapat tertangani melalui berbagai fasilitas dan pendekatan pengelolaan sampah.
"Penanganan sampah bagi Pemerintah DKI Jakarta tidak dilakukan setengah hati. Kami secara sungguh-sungguh melakukan itu," tegas Pram.***

Share this article
Program ini menjadi bagian dari strategi Pemprov DKI Jakarta untuk mengurangi volume sampah yang dikirim ke tempat pengolahan dan pemrosesan akhir.