AYOJAKARTA.COM – Penetapan pasangan AMAN atau Anies Baswedan-Sohibul Iman sebagai calon peserta Pilgub Jakarta menuai banyak tanggapan.
Wasekjen PKB Syaiful Huda menilai pasangan AMAN atau Anies Baswedan-Sohibul Iman sebagai calon peserta Pilgub Jakarta oleh PKS merupakan suatu keputusan blunder.
Huda menilai Pasangan AMAN atau Anies Baswedan-Sohibul Iman sebagai calon peserta Pilgub Jakarta bisa berdampak dead lock serta menutup peluang lahirnya koalisi.
Salah satu alasan Huda menilai keputusan tersebut keliru atau blunder adalah karena jumlah perolehan kursi PKS dan PKB masih belum memenuhi syarat pencalonan.
Terkait pencalonan pasangan AMAN dalam Pilgub Jakarta, Waketum Partai Gerindra Habiburokhman ikut memberi tanggapan.
Menurutnya, penetapan pasangan AMAN yang dilakukan PKS masih belum perlu disikapi secara berlebihan karena masih bersifat definitif.
“Karena deklarasi PKS kemarin belum memenuhi kuota untuk pencalonan sehingga belum kita hitung sebagai paslon definitif,” ungkap Habiburokhman dikutip ayojakarta.com dari YouTube KOMPASTV, Jumat (28/6/2024).
Guna menghadapi Pilgub Jakarta, Waketum Partai Gerindra memastikan akan terus membangun komunikasi politik bersama dengan Koalisi Indonesia Maju.
Namun demikian, Habiburokhman memastikan tak akan menutup kemungkinan bagi partai di luar KIM untuk bisa berkontribusi memenangkan pilkada serentak.
Langkah PKS yang sudah menawarkan pasangan AMAN sebagai paket peserta Pilgub Jakarta juga mendapat tanggapan dari Direktur Eksekutif Trias Politika Strategi.
Menurut Agung Baskoro, keputusan menetapkan pasangan AMAN yang ditempuh PKS masih terbilang prematur atau terlalu tergesa-gesa.
“Kaget karena ini sudah terjadi, sebelumnya Pak Sohibul sebagai Cagub, kemudian dalam hitungan dua hari berubah menjadi Cawagub,” ungkapnya.
Baca Juga: Ubah Putusan dari Usung Sohibul Iman sebagai Cagub Kini Jadi Cawagub Anies Baswedan, PKS: Hal Biasa
Anggapan PKS tergesa-gesa selain disampaikan Agung Baskoro juga dikomentari Analis Komunikasi Politik Universitas Padjadjaran, Kunto Adi Wibowo.
Menurut Kunto, salah satu alasan PKS melakukan manuver politik terkait paket pasangan Cagub-Cawagub di Pilkada Jakarta karena pengalaman masa lalu.
Berdasarkan pengalaman di Pilgub Jakarta sebelumnya, kader PKS justru tak mendapat kesempatan tampil karena telah diisi kader dari Partai Gerindra.
“Belajar dari pengalaman itu, PKS tidak mau ketinggalan kereta kehilangan momentum sehingga sekarang dimanfaatkan secepat mungkin,” ungkap Kunto.
Meski demikian, Kunto meyakini peluang perombakan komposisi Cagub-Cawagub tetap akan terbuka lebar mengingat jumlah perolehan kursi PKS yang masih kurang.
Salah satu alasan yang membuat Kunto optimis masih berpeluang terjadi perombakan paket AMAN adalah karena kematangan berpolitik PKS.
Kemampuan dalam membangun jaringan koalisi dan bernegosiasi, menurut Kunto membuat PKS memiliki kesan terlalu naif dalam berpolitik.
“Sejak 2017 PKS dipandang terlalu naif di antara teman-teman parpol yang lain sehingga kenaifan ini banyak dimanfaatkan parpol lain,” jelasnya.***

Share this article
Analis politik sebut PKS terlalu naif dan paket AMAN yang ditawarkan di PIlgub Jakarta dianggap berbahaya.