AYOJAKARTA.COM - Tagar Bye PKS sempat menjadi trending di platform media sosial X (sebelumnya dikenal sebagai Twitter) selama beberapa hari terakhir.
Tren ini tak lepas dari isu politik yang melibatkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang dikabarkan tengah mempertimbangkan bergabung dengan Koalisi Indonesia Maju (KIM) dalam Pilgub Jakarta 2024 mendatang.
Spekulasi ini semakin diperkuat setelah hasil Musyawarah Majelis Syuro ke-11 PKS yang mengamanatkan DPP PKS untuk menjalin komunikasi dengan Partai Gerindra dan partai-partai lainnya menjelang Pilkada serentak 2024.
Meski Presiden PKS belum memberikan rincian spesifik terkait arah komunikasi ini, langkah tersebut dinilai sebagai sinyal kuat bahwa PKS berpotensi merapat ke KIM.
Selama ini, PKS dikenal sebagai salah satu partai yang mendukung pasangan Anies Baswedan dan Sohibul Iman untuk maju di Pilgub Jakarta.
Namun hanya setelah 40 hari, PKS tiba-tiba mencabut dukungan mereka.
Sebuah keputusan yang memicu kekecewaan di kalangan pendukung Anies Baswedan dan memunculkan tagar Bye PKS di X.
Istilah Bye PKS juga dikaitkan dengan pernyataan Anies Baswedan dalam debat Pilpres beberapa waktu lalu.
Dalam debat tersebut, Anies menyoroti pentingnya oposisi dalam demokrasi tetapi juga mengakui bahwa tak semua pihak mampu bertahan sebagai oposisi.
"Saya pernah mengatakan, oposisi itu penting dan sama-sama terhormat. Sayangnya, tidak semua orang tahan menjadi oposisi," ujar Anies.
Ia juga menyinggung Prabowo Subianto yang sebelumnya pernah menyatakan bahwa tak berada dalam kekuasaan membuatnya sulit untuk berbisnis dan berusaha.
Kini dengan langkah PKS yang diduga merapat ke KIM, pernyataan Anies tersebut seolah menjadi kenyataan.
Baca Juga: Anies Baswedan Bantah Ada Deadline 40 Hari dari PKS untuk Cari Koalisi Partai
Banyak pihak melihat perubahan sikap PKS ini sebagai bukti bahwa mempertahankan posisi sebagai oposisi dalam jangka panjang memang bukan hal yang mudah terutama ketika tekanan politik dan ekonomi semakin kuat.
Langkah PKS untuk membuka komunikasi dengan Gerindra dan partai lain di KIM dianggap sebagai manuver strategis menjelang Pilgub Jakarta.
Namun bagi para pendukung setia Anies, langkah ini mungkin dianggap sebagai pengkhianatan terhadap nilai-nilai yang sebelumnya diusung partai tersebut.
Dengan semakin dekatnya Pilkada 2024, konstelasi politik di Indonesia semakin dinamis.
Apakah PKS akan benar-benar bergabung dengan KIM atau tetap berada di jalur oposisi, hanya waktu yang akan menjawab.
Namun satu hal yang pasti, spekulasi dan dinamika politik ini akan terus menjadi sorotan publik hingga hari pemungutan suara tiba.***

Share this article
Terkait trendingnya Bye PKS di X, benarkah ucapan Anies Baswedan soal tak tahan jadi oposisi jadi kenyataan?