AYOJAKARTA.COM—Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-77 akan tiba beberapa waktu lagi, seluruh rakyat Indonesia bergembira menyambutnya dengan beragama kegiatan.
Mulai dari menggelar lomba di masyarakat hingga menghidupkan tradisi yang hanya setahun sekali muncul. Namun, taukah sejarah yang terkandung dalam Peringatan HUT RI setiap tanggal 17 Agustus ini?.
Mengapa bapak Proklamator kita Soekarno-Hatta memilih tanggal 17 Agustus 1945 itu sebagai peristiwa penting bagi bangsa Indonesia?
Dilansir AyoJakarta.com dari kanal YouTube PUNCAK JAYA, diceritakan para pemuda mengetahui bahwa Jepang menyerah kepada sekutu. Mereka ingin Indonesia segera merdeka.
Pada 15 Agustus 1945, para pemuda itu menculik Soekarno yang sedang berada di kediamannya, di Jalan Pegangsaan Timur 56 (kini Jalan Proklamasi). Soekarno lantas dibawa ke Rengasdenglok.
Baca Juga: Mengenal Telok Abang, Tradisi Sambut Kemerdekaan di Palembang. Unik Banyak Disukai Anak-anak
Namun dia menolak desakan para pemuda agar saat itu juga memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia. Saat itu, Soekarno lebih memilih tanggal 17 Agustus 1945 untuk memproklamasikan Hari Kemerdekaan Indonesia.
"Mengapa diambil tanggal 17 Agustus? Mengapa tidak sekarang atau tanggal 16 Agustus?" tanya Sukarni, yang merupakan salah seorang pemimpin pemuda radikal, kala itu.
Soekarno menjawab: "Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan secara pertimbangan akal mengapa tanggal lebih memberi harapan. Angka 17 adalah suci. Orang Islam sembahyang 17 rakaat sehari, Jumat hari suci."
Dalam perjalanan pulang dari Rengasdenglok 16 Agustus 1945 sore, ketika melalui Klender, di kejauhan terlihat asap mengepul-ngepul.
Baca Juga: Sepak Bola Durian di Kebumen, Tradisi Unik Sambut Kemerdekaan. Tak Boleh Sembarangan Orang Bermain
Sukarni tampak gelisah sembari mempermainkan pistolnya. "Lihatlah revolusi sedang berkobar persis seperti yang kita harapkan. Jakarta sudah terbakar," ujarnya.
Sukarni lantas meminta agar kendaraan kembali lagi ke Rengasdenglok.
Setelah diperiksa, asap itu ternyata muncul karena seorang petani kecil yang sedang membakar jerami.
Detik-Detik Proklamasi dan Pengibaran Bendera
Beberapa saat menjelang proklamasi, Bung Karno bahkan sempat menderita penyakit demam (malaria).
Kemudian perwira Peta (Pembela Tanah Air) yang tertua, yaitu Tjudanto Latief Hendraningrat, masuk ke kamar Bung Karno dan bertanya, "Apakah Bung Karno sudah siap?".
Soekarno mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata. Lalu keluar, di belakangnya menyusul Hatta dan Fatmawati.
Acara dimulai 17 Agustus 1945 pada pukul 10.00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks.
Tak ada orang yang ditugaskan untuk mengerek bendera Merah Putih. Bendera Merah Putih itu dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Tiap orang menunggu dengan tegang.
Awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera, tetap ia menolak dan beralasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh prajurit. Akhirnya ditunjuklah Latief Hendraningrat dibantu Soehoed yang mengibarkan bendera kebangsaan Merah Putih.
Baca Juga: 10 Ide Tema Kegiatan Sambut Hari Kemerdekaan Indonesia Ke-77, Gelorakan Semangat dan Motivasi
Kemudian para hadirin yang berkisar sekitar 500 orang menyanyikan Indonesia Raya.
"Setelah itu kudengar anggota Peta di kamar kerjaku berteriak melalui telepon. Ya. Sudah selesai." (Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia-Cindy Adams).
Detik-detik proklamisi pun sempat tegang juga lantaran, teks naskah proklamasi kemerdekaan baru selesai disusun pukul 04.00 WIB pada 17 Agustus 1945.
Awalnya Bung Karno dan Bung Hatta meminta seluruh hadirin yang berkumpul di kediaman Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol, sebanyak 31 orang. Mereka diminta untuk menandatangani naskah proklamasi bersama.
Namun, kelompok pemuda tidak setuju dan minta agar Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia yang menandatangani.
Selain itu, diusulkan agar proklamasi dilakukan di Lapangan Ikada (kini Lapangan Monas).
Namun, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena pasukan Jepang masih dalam keadaan kekuatan penuh, akhirnya diputuskan proklamasi kemerdekaan dibacakan di Pegangsaan Timur 56.
Kabar tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 di daerah Jakarta dapat menyebar secara cepat dan luas. Pada hari itu juga, teks proklamasi sampai ke tangan Kepala Bagian Radio Kantor Berita Domei (sekarang Kantor Berita Antara), dan segera menyebarkannya ke setiap pelosok tanah air. Berita Proklamasi Kemerdekaan itu terus diulangi setiap setengah jam hingga pukul 16.00 saat siaran radio terhenti.

Share this article
Soekarno lebih memilih tanggal 17 Agustus 1945 untuk memproklamirkan Hari Kemerdekaan Indonesia. "Saya seorang yang percaya mistik,"