TEBET, AYOJAKARTA.COM - Angka kematian karena demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia mencapai 656 kasus. Itu terhitung sejak 10 Januari hingga 17 November 2020.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan, Didik Budijanto mengatakan. Selama periode yang sama, terdapat 95.471 kasus DBD. Sebab itulah, ia memperingatkan kepada masyarakat untuk waspada saat musim hujan.
AYO BACA : Siaga Bencana Musim Hujan, Pemkot Jakarta Pusat Imbau Warga Jaga Lingkungan
Dikatakannya, kasus DBD tersebar di 472 kabupaten/kota di 34 provinsi. Namun, lima kabupaten/kota yang mengalami kasus DBD tertinggi yaitu Buleleng 3.313, Badung 2.547, Kota Bandung 2.363, Sikka 1.786 kasus, dan Gianyar 1.717 kasus.
Sementara itu, dia menyebutkan, kematian akibat DBD terjadi di 219 kabupaten/kota. Lebih lanjut, Didik memperkirakan peningkatan DBD bisa terus terjadi hingga akhir musim penghujan pada Maret 2021 mendatang. Didik berpesan jangan sampai masyarakat mengalami DBD, terutama di era pandemi virus corona SARS-CoV2 (Covid-19) seperti sekarang.
AYO BACA : PENCAIRAN BLT GURU HONORER: Rp1,8 Juta Cair November ke Rekening Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN
Meski berjanji tetap dilayani di fasilitas kesehatan, Didik menyebutkan, masalah ini bisa menjadi beban bagi semua pihak. Untuk mengatasi masalah ini, Didik menegaskan, kuncinya adalah penerapan 3M plus.
Tiga M plus yang dimaksud yaitu menguras, mengubur, menutup, dan mendaur ulang, ditambah dengan menanam tumbuhan pengusir nyamuk seperti lavender, hingga memelihara ikan pemakan jentik. Hanya saja, ia merasa masyarakat masih enggan melaksanakannya.
"Makanya, sampai sekarang masih ada kasusnya. Oleh karena itu, Kemenkes terus mendorong pemberdayaan masyarakat dan dalam jangka waktu menengah dan panjang melakukan pendekatan sosio antropologi," ujarnya.
Pihaknya juga akan menerjunkan tenaga kesehatan (nakes) di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) untuk ikut melakukan 3M yaitu menutup, menguras, mengubur. Selain itu kampanye satu rumah satu jumantik atau juru pemantau jentik juga digalakkan.
Tak hanya itu, logistik kesehatan juga telah disiapkan jajaran Kemenkes seperti abate, obat-obatan di puskesmas. Ia menambahkan, jajaran puskesmas juga melakukan surveillans ke daerah-daerah yang menjadi vektor perantara DBD. "Yang jelas kami sudah siap," katanya.

Share this article
Dikatakannya, kasus DBD tersebar di 472 kabupaten/kota di 34 provinsi. Namun, lima kabupaten/kota yang mengalami kasus DBD tertinggi yaitu Buleleng 3.313, Badung 2.547, Kota Bandung 2.363, Sikka 1.786 kasus, dan Gianyar 1.717 kasus.