AYOJAKARTA.COM - Inovasi bahan bakar nabati Bobibos kembali menjadi pusat perhatian setelah puluhan toren raksasa mulai berdatangan ke Lembur Pakuan, Subang.
Lalu lintas truk yang meningkat dalam beberapa hari terakhir membuat warga bertanya-tanya. Menanggapi hal ini, pihak pengelola Bobibos memberikan klarifikasi terbuka.
Mereka menjelaskan bahwa toren-toren tersebut akan digunakan sebagai tempat penyimpanan jerami sebelum diproses menjadi bahan bakar Bobibos. Selain itu, berbagai komponen lain sedang dikirim untuk membangun fasilitas bio manufaktur.
Baca Juga: Bobibos di Ujung Pembuktian, Sudah Kantongi Dukungan dari Komisi XII DPR
“Wargi Jabar, kami sudah tiba. Mohon maaf jika banyak truk keluar masuk. Semua ini disiapkan agar fasilitas berjalan sebagaimana mestinya dan bisa uji produksi sesuai jadwal,” tulis pihak Bobibos dalam keterangan resminya di media sosial Instagram yang diunggah pada Jumat, 5 Desember 2025.
Mereka menegaskan bahwa proses dilakukan transparan dan penuh tanggung jawab demi energi rakyat. Di tengah meningkatnya aktivitas tersebut, dukungan penting hadir dari Komisi XII DPR RI.
Ramson Siagian, salah satu anggotanya, menyatakan bahwa inovasi seperti Bobibos patut diapresiasi, namun tetap harus melewati proses pengujian ketat sebelum dipakai publik.
“Setiap inovasi bagus, tapi harus dibuktikan lewat uji coba. Kualitasnya harus memenuhi standar untuk digunakan,” ujar Ramson melalui YouTube TVR Parlemen.
Ia menambahkan bahwa lembaga di bawah Kementerian ESDM memiliki peran besar memastikan keamanan dan kelayakan bahan bakar ini.
Bobibos, singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos diklaim 100% berasal dari jerami, limbah pertanian yang selama ini kerap dibakar setelah panen.
Konsep ini menawarkan manfaat ganda yaitu mengurangi emisi sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru bagi petani. Dengan formula yang dinilai ramah lingkungan, Bobibos menyebut misinya sebagai “petani tersenyum dua kali”.
Namun di balik optimisme tersebut, Bobibos juga menghadapi kritik. Publik mempertanyakan progres pembuatan mesin, minimnya bukti visual, hingga klaim bahwa sebuah mesin dalam truk Fuso dapat langsung mengolah jerami menjadi bioetanol.
Beberapa ahli menilai klaim itu tidak lazim karena fermentasi etanol biasanya membutuhkan waktu cukup lama. Meski demikian, uji lapangan menunjukkan hasil positif. Kang Dedi Mulyadi yang mencoba Bobibos pada mesin traktor diesel menyampaikan bahwa tarikan mesin lebih ringan dan emisi lebih bersih.
Lemigas juga mencatat angka oktan mencapai 98,1 setara atau bahkan lebih tinggi dibanding sejumlah bensin komersial. Untuk menjawab semua keraguan, Bobibos kini menetapkan tanggal 18 Desember 2025 sebagai momen pembuktian.
Pada hari itu, mesin pengolah jerami akan dipresentasikan secara terbuka. Tanggal tersebut akan menentukan apakah Bobibos benar-benar menjadi tonggak baru energi rakyat Indonesia, atau justru menjadi inovasi viral yang meredup sebelum sempat bersinar.***
Share this article
Bobibos siapkan produksi di Lembur Pakuan, toren raksasa berdatangan. DPR dukung tapi minta uji ketat. Publik menanti pembuktian 18 Desember di tengah pro-kontra soal teknologi dan proses produksi.