AYOJAKARTA.COM - Kondisi Kampung Batu Busuk, Kecamatan Pauh, Kota Padang, hingga pertengahan Desember 2025 masih berada dalam situasi darurat pascabanjir bandang (galodo) yang terjadi sejak akhir November lalu.
Hingga Senin pagi, 15 Desember 2025, aliran banjir bercampur lumpur dilaporkan masih menggenangi permukiman warga serta jalan utama kampung, menandakan dampak bencana belum sepenuhnya surut. Banjir bandang tersebut menyebabkan kerusakan luas pada infrastruktur dasar.
Sejumlah tiang listrik roboh, pasokan air bersih terputus, serta akses jalan dan jembatan penghubung mengalami kerusakan berat akibat derasnya arus air yang membawa material lumpur dan bebatuan.
Kondisi ini membuat aktivitas warga lumpuh total dan mempersulit upaya pemulihan awal. Sebagian besar warga Batu Busuk kini terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Namun, di tempat pengungsian, para korban bencana masih menghadapi keterbatasan logistik, minimnya akses air bersih, serta persoalan sanitasi. Kehidupan sehari-hari belum bisa kembali normal, sementara ancaman bencana lanjutan terus membayangi.
Derasnya aliran sungai pascabanjir masih terus mengikis bibir sungai. Perubahan alur dan lebar sungai akibat galodo membuat sejumlah rumah warga yang tersisa kini berada dalam kondisi sangat rawan.
Kekhawatiran akan terjadinya banjir bandang susulan pun semakin meningkat, terutama saat curah hujan tinggi. Menghadapi situasi tersebut, warga terdampak mendesak Pemerintah Kota Padang dan instansi terkait untuk segera mengambil langkah penanganan lanjutan.
Baca Juga: Respons BOBIBOS Setelah Bahan Bakar Buatannya Dilirik Langsung Pabrikan Otomotif Asal Korea Selatan
Salah satu tuntutan utama warga adalah relokasi permanen ke lokasi yang lebih aman guna menghindari risiko bencana berulang. Saat ini, hunian sementara (Huntara) di Rumah Khusus, Kecamatan Koto Tangah, menjadi tempat berteduh bagi sebagian korban banjir.
Namun, Huntara dinilai hanya sebagai solusi jangka pendek. Pemerintah Kota Padang bersama pemerintah pusat telah menyiapkan rencana pembangunan hunian tetap (Huntap) sebagai bagian dari pemulihan jangka panjang.
Kepala Dinas Pertanahan Kota Padang, Desmon Danus, mengungkapkan bahwa Pemko Padang memiliki sekitar 3,5 hektare lahan di tiga lokasi di Kecamatan Koto Tangah yang berpotensi dijadikan lokasi Huntap.
Lahan tersebut berada di kawasan Bumi Perkemahan Air Dingin Balai Gadang, Desaku Menanti, serta di belakang Kantor Camat Koto Tangah.
"Sementara di belakang Kantor Camat Koto Tangah ada sekitar tiga ribu meter. Pihak terkait kini juga sedang mendata siapa saja yang berhak mendapat Huntap," ujar Desmon Danus, dilansir dari laman padang.go.id. Pembangunan Huntap masih menunggu arahan Wali Kota Padang serta kepastian dari pemerintah pusat.
Jika telah disetujui, pembangunan rumah bagi korban banjir diperkirakan memakan waktu sekitar empat hingga lima bulan. Upaya ini diharapkan dapat mengembalikan kehidupan warga Batu Busuk ke kondisi yang lebih aman dan stabil pascabencana.***

Share this article
Banjir bandang di Batu Busuk Padang masih berdampak parah. Warga mengungsi, infrastruktur rusak, dan pemerintah menyiapkan relokasi serta hunian tetap di Koto Tangah.