AYOJAKARTA.COM - Lebih dari sebulan pasca banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang, kondisi warga terdampak ternyata masih jauh dari kata normal.
Fakta ini diungkapkan oleh relawan kemanusiaan dengan akun Instagram @saktimandraguna yang akrab disapa Bang Ale, saat kembali mendatangi wilayah terdampak pada Sabtu, 27 Desember 2025.
Dalam unggahan videonya, Bang Ale menyampaikan bahwa kedatangannya kali ini merupakan kunjungan kedua setelah fase tanggap darurat.
Ia mengaku membawa bantuan air bersih dalam jumlah besar, namun kondisi di lapangan masih sangat memprihatinkan.
“Lebih dari sebulan, nggak banyak yang berubah. Ini adalah kedatangan ke-2 kami di Aceh Tamiang. Hari ini di Kuala Simpang, kami bawa 49.000 liter air setelah 30 hari bencana,” ujar Bang Ale.
Ia menambahkan, meski bencana telah berlalu cukup lama, warga masih mengalami kelaparan, kesulitan akses komunikasi, hingga listrik yang belum sepenuhnya menyala.
“Orang-orang masih banyak kelaparan, sinyal masih susah, listrik masih belum nyala sepenuhnya, alat berat juga masih sedikit sekali,” katanya.
Kondisi infrastruktur yang rusak turut memperparah distribusi bantuan. Banyak akses jalan yang belum dapat dilalui sehingga memicu kemacetan dan menghambat mobilisasi logistik.
Bang Ale juga menyinggung fenomena pemasangan spanduk partai politik di tengah kondisi bencana.
“Ini udah ada spanduk dari pengurus partai Golkar, ada wajah Pak Bahlil di spanduk. Eh tapi kok kameranya bergetar ya pas nyorot spanduk,” ucapnya dalam video tersebut.
Unggahan itu pun menuai reaksi keras dari warganet. Sejumlah komentar menilai pemasangan spanduk politik tidak pantas dilakukan saat warga masih berjuang bertahan hidup.
“Sempet-sempetnya kondisi begitu pasang spanduk pake foto,” tulis influencer @dr.tinabayuajie.apt.
Komentar lain juga menyoroti kondisi listrik yang belum pulih. “Sebulan nggak ada listrik dzaliimmm… dzaliiiimmm,” tulis seorang netizen.
Sementara warganet lainnya menimpali, “Kamera aja nggak nerima ya bang penampakannya.”
Diketahui, banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi sejak akhir November 2025 melanda tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Di Aceh Tamiang, Desa Babo di Kecamatan Bandar Pusaka menjadi salah satu wilayah terparah setelah diterjang banjir setinggi 15 meter.
Menurut catatan BNPB, hingga 26 Desember 2025, jumlah korban meninggal dunia akibat banjir di Sumatera mencapai 1.137 orang, dengan 163 orang masih dinyatakan hilang.
Sementara itu, jumlah warga terdampak yang mengungsi di tiga provinsi tercatat mencapai 457.255 jiwa, menandakan penanganan pascabencana masih membutuhkan perhatian serius dan berkelanjutan.***
Share this article
Relawan Bang Ale mengungkap kondisi Aceh Tamiang masih memprihatinkan sebulan pascabanjir. Warga kelaparan, listrik belum pulih, akses sulit, sementara spanduk politik menuai kritik warganet.