AYOJAKARTA.COM - Inovasi bahan bakar nabati berbasis jerami padi, Bobibos, kembali menjadi sorotan publik.
Di tengah antusiasme sekaligus keraguan, pengelola Bobibos akhirnya buka suara terkait tudingan miring hingga tuntutan agar mesin dan formulasi produksinya dibuka secara terbuka. Pihak Bobibos menegaskan, sikap tertutup tersebut bukan tanpa alasan.
Pembina Bobibos, Mulyadi, menyayangkan adanya tuduhan fitnah yang menyebut Bobibos sebagai proyek “hoaks” atau disamakan dengan isu blue energy di masa lalu.
Ia menilai, tuntutan membuka mesin dan formulasi justru mengabaikan prinsip dasar inovasi, yakni perlindungan rahasia dagang dan kekayaan intelektual.
“Kalau mesin dan formulasi kami buka, keistimewaan Bobibos hilang. Itu yang dipatenkan. Mohon hormati kekayaan intelektual,” ujar Mulyadi dalam pernyataan yang diunggah melalui akun Instagram Bobibos pada Minggu, 28 Desember 2025.
Menurutnya, Bobibos tidak menutup diri sepenuhnya. Pada saat proyek Bio Manufaktur di Lembur Pakuan rampung dan lahan telah disiapkan oleh Dedi Mulyadi, media serta pihak terkait dipersilakan melihat langsung proses produksi.
Namun dengan syarat tegas, yakni tidak ada pengambilan foto atau video mesin dan formulasi.
Mulyadi juga menepis tudingan bahwa Bobibos sekadar klaim sepihak. Ia menegaskan, bahan bakar hasil konversi jerami telah melalui uji laboratorium resmi Lemigas, lembaga di bawah Kementerian ESDM.
Hasilnya menunjukkan angka oktan 98,1, yang menjadi dasar legitimasi ilmiah Bobibos.
“Saya tidak mungkin mempertaruhkan reputasi dan posisi saya hanya untuk penipuan. Ini tidak sebanding,” tegas Mulyadi, yang juga merupakan anggota DPR RI dan pengurus DPP Partai Gerindra.
Di sisi lain, Bobibos justru melangkah lebih jauh di luar negeri. Timor Leste disebut menjadi negara pertama yang secara konkret merealisasikan penggunaan Bobibos.
Setelah penandatanganan MoU, pemerintah Timor Leste memberikan dukungan fasilitas pabrik serta lahan bahan baku hingga 25.000 hektare, dengan tahap awal sekitar 5.700 hektare.
Meski demikian, Mulyadi menegaskan Bobibos tetap ingin diproduksi massal di Indonesia.
Namun ada satu prasyarat utama, yaity regulasi. Saat ini, kebijakan bioenergi nasional baru mencakup sawit, aren, dan tebu. Jerami padi belum masuk sebagai bahan baku resmi bioenergi.
Sementara menunggu kepastian regulasi dan kesiapan Lembur Pakuan, Bobibos memilih strategi paralel dengan menyiapkan pembangunan pabrik di Jonggol, Bogor. Langkah ini disebut untuk menjaga timeline proyek tetap berjalan.
Meski demikian, Bobibos menegaskan tidak menghilang dan tidak berhenti. Mereka hanya menunggu momentum yang tepat, regulasi yang jelas, dan kesiapan lokasi.
Publik pun diminta menilai Bobibos berdasarkan proses dan data, bukan sekadar asumsi.***
Share this article
Bobibos menegaskan mesin dan formulasi tak dibuka demi rahasia dagang. Uji Lemigas sahkan kualitas. Produksi menunggu regulasi jerami, sambil siapkan pabrik di Jonggol dan proyek Timor Leste.