AYOJAKARTA.COM - Upaya transisi energi di Indonesia pada 2026 memperlihatkan dua pendekatan berbeda namun saling melengkapi.
Di satu sisi, Danantara Indonesia mendorong proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) atau waste to energy (WtE).
Di sisi lain, Bobibos hadir dengan inovasi bahan bakar nabati berbasis limbah jerami.
Keduanya sama-sama menjanjikan solusi energi hijau, tetapi berada pada jalur realisasi yang berbeda.
Danantara menargetkan groundbreaking proyek WtE pada kuartal II-2026.
Saat ini, proyek tersebut telah memasuki tahap seleksi mitra, persiapan kontrak, serta proses Engineering, Procurement, and Construction (EPC).
Standar yang diterapkan pun ketat. Calon mitra wajib memiliki pengalaman mengoperasikan fasilitas WtE berkapasitas minimal 1.000 ton sampah per hari, termasuk rekam jejak operasi dan pemeliharaan pembangkit.
Lead of WtE Danantara Investment Management, Fadli Rahman, menegaskan bahwa tata kelola menjadi fondasi utama.
Proses pemilihan Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP) dilakukan secara transparan dan berbasis mitigasi risiko.
Dari sisi teknologi, Danantara memastikan penggunaan mechanical-grade incinerator dengan sistem penyaringan berlapis yang memenuhi standar kesehatan internasional dan rujukan WHO.
Pada tahap awal, empat daerah yaitu Bogor, Denpasar, Yogyakarta, dan Bekasi yang siap menjadi lokasi peletakan batu pertama.
Secara nasional, pemerintah menargetkan pembangunan 33 PLTSa hingga 2029, dengan tujuh unit mulai dibangun pada 2026.
Setiap unit diproyeksikan mengolah 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik 20 MW, didukung regulasi Perpres Nomor 109 Tahun 2025.
Sementara itu, Bobibos bergerak lewat jalur inovasi swasta dengan pendekatan berbeda.
Perusahaan ini mengembangkan bahan bakar nabati dari jerami padi, limbah pertanian yang selama ini kurang dimanfaatkan.
Bobibos kembali mencuri perhatian setelah bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani dan Kepala BRIN Prof. Arif Satria.
Pertemuan tersebut membahas agenda transisi energi baru terbarukan serta membuka peluang dukungan riset dari BRIN, termasuk pemanfaatan fasilitas laboratorium.
Di lapangan, Bobibos juga menunjukkan progres produksi di Timor Leste. Melalui unggahan media sosial, terlihat proses pencacahan dan pembubukan jerami yang kemudian diolah menjadi cairan organik sebagai bahan baku biogasoline dan biosolar.
Pemerintah Timor Leste bahkan mengalokasikan sekitar 25 ribu hektare lahan jerami dan menyiapkan regulasi pendukung.
Bobibos mengklaim produk akhirnya setara RON 98, rendah emisi, dan ramah lingkungan, dengan target peluncuran pada Februari 2026.
Namun, berbeda dengan Danantara yang sudah memiliki kerangka regulasi dan pendanaan negara, Bobibos masih menghadapi tantangan pembuktian teknologi dan kepercayaan publik.
Jika dilihat dari kesiapan struktural, proyek Danantara berpeluang lebih dulu terealisasi dalam bentuk fisik.
Namun dari sisi kecepatan eksekusi dan skala awal, Bobibos justru berpotensi meluncur lebih cepat.
Publik kini menanti, apakah energi dari sampah atau BBM jerami yang lebih dulu benar-benar mengalir ke masyarakat.***

Share this article
Transisi energi 2026: Danantara fokus proyek sampah jadi listrik (WtE) di 4 wilayah, sementara Bobibos inovasi BBM dari limbah jerami. WtE unggul regulasi, Bobibos target luncur cepat Februari 2026.