AYOJAKARTA.COM - Vietnam mencuri perhatian dalam hal pengelolaan sampah berkelanjutan.
Di wilayah Vietnam Tengah, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Phu Son di Kelurahan Phu Bai, Kota Hue, menjadi contoh nyata bagaimana krisis sampah bisa diubah menjadi sumber energi bersih yang bernilai ekonomi.
Model ini dinilai relevan untuk dijadikan rujukan Indonesia, yang masih bergulat dengan persoalan sampah perkotaan.
Dilansir dari vietnam.vn, PLTSa Phu Son yang dikelola EB Environmental Energy Co., Ltd. disebut sebagai instalasi pengolahan sampah paling modern di Vietnam Tengah.
Fasilitas ini mampu mengolah sekitar 600 ton sampah rumah tangga per hari dan menghasilkan listrik hingga 12 megawatt (MW).
Angka tersebut cukup signifikan untuk menggantikan metode penimbunan sampah tradisional yang selama ini memicu pencemaran lingkungan.
Keunggulan utama PLTSa Phu Son terletak pada sistem operasionalnya yang sepenuhnya tertutup (closed-loop).
Proses dimulai dari penimbangan sampah secara digital, pengomposan awal, pembakaran, hingga pemulihan energi dan pengolahan limbah sisa.
Area penampungan sampah dirancang bertekanan negatif untuk mencegah bau menyebar ke lingkungan sekitar, masalah klasik yang kerap dikeluhkan masyarakat di sekitar tempat pembuangan akhir.
Teknologi insinerator kisi multi-tahap digunakan untuk membakar sampah pada suhu tinggi, berkisar 850 hingga 1.100 derajat Celsius.
Suhu ekstrem ini memastikan penghancuran zat berbahaya secara optimal tanpa memerlukan bahan bakar tambahan.
Hasilnya, volume sampah menyusut drastis hingga hanya tersisa sekitar 7–10 persen dalam bentuk abu dan terak.
Panas dari proses pembakaran kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan uap bertekanan tinggi yang memutar turbin generator listrik.
Sebagian energi digunakan untuk operasional pabrik, sementara sisanya disalurkan ke jaringan listrik nasional Vietnam.
Inilah inti dari konsep waste-to-energy yang kini banyak diadopsi negara maju. Aspek pengendalian lingkungan juga menjadi perhatian utama.
Gas buang diolah melalui sistem penyaringan berlapis, mulai dari SNCR untuk menekan nitrogen oksida, penyemprotan kapur dan karbon aktif untuk menyerap dioksin serta logam berat, hingga filter kain untuk menangkap debu halus.
Emisi dipantau secara daring selama 24 jam dan datanya dilaporkan langsung ke otoritas lingkungan setempat.
Tak hanya itu, air lindi dan air limbah diolah hingga memenuhi standar tinggi dan didaur ulang 100 persen untuk kebutuhan internal.
Bahkan, air hasil olahan mencapai standar reverse osmosis (RO), setara air minum, meski tidak dikonsumsi langsung.
Model PLTSa Phu Son membuktikan bahwa sampah bisa direduksi hingga 90–95 persen sekaligus menghasilkan energi dan material bernilai guna.
Bagi Indonesia, yang tengah mendorong pembangunan PLTSa di berbagai daerah, pendekatan Vietnam ini menunjukkan bahwa dengan teknologi tepat dan tata kelola ketat, pengolahan sampah dapat menjadi solusi lingkungan sekaligus penopang ketahanan energi nasional.***
Share this article
Vietnam sukses mengolah 600 ton sampah/hari menjadi listrik 12 MW di PLTSa Phu Son, sistem tertutup, emisi terkontrol, dan limbah dimanfaatkan sebagai bahan bangunan.