AYOJAKARTA.COM - Pengembangan bioetanol di Indonesia resmi mendapat dukungan politik kuat.
Komisi XII DPR RI memberi lampu hijau percepatan industri bioetanol sebagai strategi menekan impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Dukungan ini disampaikan Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Dony Maryadi Oekon, saat kunjungan kerja ke proyek pilot bioetanol milik PT Pertamina di Bandung.
Menurut Dony, bioetanol merupakan bagian dari energi baru terbarukan yang sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.
"Ini merupakan energi baru yang masuk dalam bioenergi, dalam hal ini bioetanol. Ini harus kita dorong karena dapat mengurangi produk yang kita impor dari luar," ujar Dony Maryadi Oekon dilansir dari laman dpr.go.id.
Selain ramah lingkungan, bioetanol dinilai mampu menjadi substitusi impor BBM yang selama ini membebani neraca perdagangan.
Ia menegaskan, pemanfaatan bioetanol yang nantinya dicampur dengan Pertamax non-PSO harus didorong secara serius melalui kebijakan yang proaktif dan berkelanjutan.
Dukungan DPR tersebut sejalan dengan langkah konkret pemerintah dan BUMN energi.
Tahun ini, Pertamina bersama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) mulai membangun pabrik bioetanol terintegrasi di kawasan Pabrik Gula Glenmore, Banyuwangi.
Pabrik ini dirancang berkapasitas produksi 30 ribu kiloliter per tahun dengan bahan baku molase tebu.
Direktur Transformasi dan Kelanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menyebut proyek ini sebagai wujud hilirisasi industri gula menjadi energi bersih.
Dengan kapasitas tersebut, pabrik bioetanol Banyuwangi diproyeksikan mampu menekan impor BBM hingga USD 13,9 juta atau sekitar Rp233 miliar per tahun, sekaligus mengurangi emisi karbon mencapai 66.000 ton CO₂ ekuivalen.
Hasil produksi bioetanol dari Banyuwangi nantinya akan dikirim ke terminal BBM Pertamina untuk kemudian disalurkan ke SPBU.
Implementasi awal sebenarnya sudah berjalan melalui produk Pertamax Green 95 dengan campuran etanol 5 persen yang saat ini dipasarkan di 177 SPBU di Pulau Jawa.
Ke depan, cakupan wilayah dan kadar etanol direncanakan terus ditingkatkan agar Indonesia sejajar dengan negara-negara maju pengguna bahan bakar berbasis etanol.
Dari sisi hulu, Direktur Utama SGN, Mahmudi, memastikan ketersediaan bahan baku sangat aman.
Produksi molase SGN mencapai hampir 700 ribu ton per tahun, jauh di atas kebutuhan pabrik bioetanol.
Hal ini sekaligus membuka peluang besar bagi petani tebu, yang akan menjadi ujung tombak penyedia feedstock industri.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menilai pabrik bioetanol di lahan 10 hektare ini tidak hanya mendukung pasokan energi bersih nasional, tetapi juga memaksimalkan serapan tebu petani lokal.
Dengan pembangunan dimulai Juni dan masa pengerjaan 24 bulan, proyek ini diharapkan menjadi model sukses transisi energi berbasis ekonomi rakyat dan energi terbarukan di Indonesia.***

Share this article
DPR dukung bioetanol sebagai EBT untuk tekan impor BBM. Pertamina–SGN bangun pabrik 30 ribu KL di Banyuwangi berbahan tebu, hemat devisa Rp233 miliar dan pangkas emisi 66 ribu ton CO2.