AYOJAKARTA.COM - Lagu berjudul "My Little Bolu Ketan" dengan lirik ikonik "Mas Bahlil Ganteng" tengah menjadi fenomena di media sosial.
Lagu ini menarik perhatian luas hingga sampai ke telinga subjek utamanya, Bahlil Lahadalia.
Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Partai Golkar ini mengaku penasaran dengan sosok penciptanya.
Dalam sebuah video bersama Raffi Ahmad, Bahlil bahkan menyatakan ingin mengajak sang pembuat lagu untuk makan bersama.
"Saya minta tolong untuk saya mengundang kalau yang bersangkutan berkenan saya akan mengundang untuk berbincang-bincang sekaligus makan karena penasaran juga saya," kata Bahlil Lahadalia dalam video yang diunggah ke akun Instagram Raffi Ahmad
Namun, di balik keceriaan lagu yang viral tersebut, tersimpan berbagai fakta miris terkait jejak kontroversi Bahlil.
Salah satu isu yang paling menyita perhatian adalah dugaan pencatutan nama Jaringan Advokasi Tambang (Jatam).
Nama organisasi ini muncul sebagai informan utama dalam disertasi doktoral Bahlil di Universitas Indonesia.
Jatam dengan tegas menolak pencantuman nama mereka karena merasa tidak pernah memberikan izin, baik lisan maupun tertulis.
Pihak Jatam menceritakan bahwa peneliti yang mewawancarai mereka tidak pernah menyebutkan bahwa data tersebut untuk kepentingan disertasi Bahlil.
Mereka menduga adanya praktik perjokian karya ilmiah yang mencederai integritas pendidikan Indonesia.
Hingga kini, Jatam menuntut agar nama mereka segera dihapus dari disertasi yang membahas tata kelola hilirisasi nikel tersebut.
Kontroversi Bahlil tidak berhenti di ranah akademis. Kebijakannya saat menjabat Menteri Investasi/Kepala BKPM juga menuai protes keras di Pulau Sipora, Mentawai.
Ia memberikan izin pemanfaatan hutan seluas 20.706 hektare kepada PT Sumber Permata Sipora (SPS).
Koalisi masyarakat sipil menemukan banyak kejanggalan dalam dokumen AMDAL proyek tersebut.
Salah satu fakta yang paling mengejutkan adalah adanya ratusan titik koordinat lokasi yang justru merujuk ke wilayah Kota Bogor, bukan di Mentawai.
Kajian lingkungan untuk proyek di Pulau Sipora ini dinilai sangat lemah dan tidak melibatkan masyarakat lokal secara memadai.
Kebijakan ini dianggap mengabaikan prinsip keberlanjutan ekologis dan mengancam satwa endemik serta sumber penghidupan warga adat.
Selain itu, Bahlil juga sering dikritik karena dianggap lebih membela kepentingan industri daripada penderitaan rakyat akibat dampak tambang nikel.
Beberapa pihak mengungkap adanya potensi konflik kepentingan dalam kebijakan pertambangan.
Jatam menyebut Bahlil memiliki keterkaitan bisnis dengan perusahaan tambang nikel melalui sejumlah perusahaan miliknya.
Fenomena lagu viral ini pun dipandang oleh sebagian netizen bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk satire atas kondisi politik dan hukum saat ini.***
Share this article
Lagu viral "My Little Bolu Ketan" bikin Bahlil Lahadalia penasaran dengan penciptanya. Namun, ia didera kontroversi dugaan catut nama Jatam di disertasi UI & kejanggalan izin hutan Mentawai di Bogor.