AYOJAKARTA.COM - Pengamat Politik Rocky Gerung turut buka suara terkait adanya dugaan mark up di proyek ketera cepat atau Whoosh.
Sebelumnya, dugaan adanya mark up di proyek Whoosh ini sempat diungkap oleh mantan Menko Polhukam Mahfud MD.
Saat itu, Mahfud MD mengatakan dugaan tersebut dari sumber utama yang ia dapatkan yakni Nusantara TV.
Ternyata dugaan ini, juga dirasakan oleh Rocky Gerung.
Melalui kanal YouTube Rocky Gerung Official, Rocky mengatakan jika saat ini Joko Widodo (Jokowi) yang saat itu menjadi presiden dan menyetujui proyek Whoosh sudah kehilangan pulung.
"Sebagai mantan Presiden, pada akhirnya dia tidak bisa tidur nyenyak, karena setiap hari emak-emak, BEM, netizen membongkar kembali skandal-skandal yang pernah terjadi selama 10 tahun," ujar Rocky dikutip pada Rabu (22/10/2025).
Salah satunya adalah proyek ketera cepat atau Whoosh.
Rocky mengatakan jika saat ini Jokowi rupanya sulit untuk menghindar dari dugaan adanya mark up di proyek Whoosh ini.
Baca Juga: Resmi Disetujui, Ditjen Pesantren Akan Perkuat Peran Pendidikan dan Dakwah Nasional
Sebab, publik pun tahu saat itu negosiasi untuk Whoosh ini dilakukan dengan Jepang, namun justru berakhir dengan China.
Rocky pun mengkritik peralihan mitra proyek dari Jepang ke China pada tahun 2015.
"Jepang tawarkan US$5,5 miliar dengan bunga 0,1%, tapi Jokowi pilih China dengan US$5 miliar bunga 2-3,4% yang bengkak jadi US$7,27 miliar (Rp120,38 triliun)," paparnya.
Menurut Rocky kerugian ini harusnya dianggap ketidakcermatan pembuatan kebijakan dengan akibat bahwa ketidakcermatan itu bisa menjadi unsur kesengajaan.
Dari unsur kesengajaan inilah, menurut Rocky bisa masuk pidana seperti mark up atau tanpa konsultasi dengan DPR.
"Sifatnya bisnis to bisnis akhirnya negara terlibat, bangkrut, jadi semua hal sekarang Presiden Jokowi ada dalam sorotan publik yaitu perilaku, kecenderungan untuk memaksakan tanpa izin pada rakyat," cetusnya.
Lebih lanjut, Rocky menilai jika Jokowi berpotensi untuk dipidanakan sangat besar.
Salah satunya adalah perpindahan kerja sama yang awalnya bersama Jepang tapi malah dipindah ke China.
"Apakah ada berjanjian semacam diam-diam, dalam rangakain diplomasi politik atau menerima sogokannya lebih besar?" tandas Rocky lagi.
Baca Juga: Dirut Jasa Marga Pastikan 7 Gerbang Tol Dalam Kota Sudah Kembali Normal Usai Kebakaran
Ia juga menduga bahwa ini masuk dalam kepentingan pribadi dan kelompok Solo.
Bahkan dengan tegas Rocky yakin bahwa proyek Whoosh ini memang ada dugaan mark up.
"Tapi pintu masuk udah ada, itu mark up pasti, dengan mudah dipastikan sebagai pintu masuk untuk membongkar skandal dari beban kereta cepat yang jadi semacam nyanyian bersama yang menjadi beban pada rakyat," ungkapnya.***
Share this article
Rocky Gerung dengan tegas mengatakan bahwa pasti ada mark up dalam proyek kereta cepat atau Whoosh ini, sebut Jokowi berpoteni dipidanakan.