AYOJAKARTA.COM - Di tengah meningkatnya kekhawatiran akan krisis energi global dan fluktuasi harga bahan bakar fosil, inovasi anak bangsa kembali menunjukkan harapan.
Tim peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil mengembangkan bahan bakar alternatif berbasis kelapa sawit yang diberi nama Biogasoline Sawit (Benwit) RON 90.
Bensin sawit ini diproduksi dari minyak mentah kelapa sawit (CPO) melalui proses catalytic cracking.
Proses tersebut adalah pemecahan molekul besar menjadi hidrokarbon ringan yang setara bensin.

Inovasi ini bisa menjadi langkah strategis dalam mendukung kemandirian energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang semakin menipis.
Teknologi terbaru yang dikembangkan juga mampu meningkatkan hasil produksi hingga sekitar 83 persen dengan emisi lebih rendah serta mendekati konsep tanpa limbah (zero waste).
Bukan hanya ramah lingkungan, inovasi ini juga berpotensi menjadi solusi kemandirian energi nasional karena dapat memanfaatkan sumber daya dalam negeri yang melimpah.
Selain itu juga sekaligus menekan dampak fluktuasi harga minyak global.

Menariknya, salah satu keunggulan utama Benwit ini terletak pada efisiensi produksinya.
Dalam satu kali proses pengolahan, bahan baku kelapa sawit ini bisa menghasilkan sekitar 50 hingga 55 persen bensin tanpa menyisakan limbah yang terbuang sia-sia.
Residu yang dihasilkan pun justru bisa dimanfaatkan kembali, salah satunya sebagai bahan bakar kompor.
Itu artinya, seluruh proses produksi bersifat optimal dan ramah lingkungan.

Saat ini penggunaan Benwit masih dilakukan dengan metode blending.
Metode blending sendiri merupakan langkah mencampurkan bensin sawit dengan bensin konvensional.
Metode ini dilakukan dan dipilih karena tidak memerlukan banyak perubahan pada mesin kendaraan yang sudah ada.***
Share this article
Bensin sawit ini diproduksi dari minyak mentah kelapa sawit (CPO) melalui proses catalytic cracking.