AYOJAKARTA.COM – Banyak terjadi peristiwa politik di minggu ini yang menyita perhatian publik.
Usai viral tagar Kawal Putusan Mahkamah Konstitusi dan Peringatan Darurat, aksi demo digelar oleh masyarakat di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senayan, pada Kamis, 22 Agustus 2024.
Tagar Kawal Putusan MK dan Peringatan Darurat yang berlatar belakang biru serta gambar burung garuda tersebut viral sejak Rabu, 21 Agustus 2024 malam.
Diketahui, aksi demo digelar dan Peringatan Darurat tersebut viral setelah Baleg DPR RI menetapkan ambang batas 20 persen kursi di parlemen untuk partai politik (parpol) yang akan mengusulkan calon-calonnya di Pilkada 2024.
Baleg DPR RI juga diketahui menolak putusan MK nomor 70/PUU-XXII/2024 terkait syarat batas usia calon kepala daerah dan wakilnya dihitung ketika pendaftaran pasangan calon-calon yang akan mengikuti Pilkada.
Namun, pada Kamis, 22 Agustus 2024 malam, Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad resmi membatalkan rapat yang akan mengesahkan UU Pilkada dan memutuskan untuk menggunakan putusan dari MK.
Lalu, aksi demo yang digelar tersebut apakah puncak dari kekecewaan dan kemarahan masyarakat?
Menurut Direktur Eksekutif Charta Politika sekaligus Pengamat Politik, Yunarto Wijaya ia tidak kaget dengan fenomena yang terjadi kemarin.
“Saya enggak kaget ya fenomena kelas menengah yang biasa dianggap apolitis tapi Kemudian pada titik tertentu bisa dengan mudahnya terkonsolidasi tidak hanya berhenti pada jempol tadi terbukti dalam satu hari itu konsolidasi itu bisa muncul di lapangan tanpa komando, itu bisa terlihat sekali ada yang datang di MK datang di Senayan” ucapnya, dikutip Ayojakarta.com dari YouTube METRO TV, pada Jumat, 23 Agustus 2024.
Ia menyampaikan ketika kelas menengah yang dianggap apolitis dan sibuk dengan kesehariannya lalu diinjek-injek dan diusik intelektual serta harga dirinya akan terjadi seperti aksi demo di depan Gedung DPR tersebut.
“Segmen kelas menengah mereka mungkin apolitis mereka sibuk dengan keseharian tapi ketika berkali-kali ada peristiwa politik berkali-kali ya, itu mengusik intelektualitas atau nginjak-nginjek rasio mereka Ya seperti apa yang kita lihat hari ini terjadi” ujarnya.
Ia mengatakan apa yang terjadi di depan Gedung DPR tersebut merupakan puncak kekecewaan masyarakat.
Dari pilpres kemarin, keanehan MK dengan mudahnya memutuskan sesuatu yang membuat kontroversi dan semuanya menolak, namun pada akhirnya semuanya harus menghormati keputusan tersebut.
“Keanehan lalu muncul juga kemarin pada situasi MK yang dengan mudahnya ketika memutuskan sesuatu walaupun kontroversial secara substansi siapapun yang menolak termasuk saya akhirnya harus menghormati” ucapnya.
“Secara formil bahwa ketika Pilpres tetap harus berlaku sesuai dengan asas final dan mengikat tadi kok tiba-tiba ada perlakuan yang berbeda, Apakah kemudian memang negara ini harus diatur oleh selera kekuasaan bahkan bisa mengubah sistem aturan dengan demikian mudah dan saya pikir puncaknya adalah apa yang kita lihat tadi” sambungnya.
Yunarto Wijaya menyampaikan 90 persen orang yang ikut aksi demo tersebut adalah pendukung Presiden Jokowi yang kecewa dengan pemerintahannya.
“Makanya kalau tadi saya lihat apa yang datang siapa yang datang di MK jangan dibilang itu Jokowi haters 90% yang datang adalah pendukung Jokowi yang pernah berharap dan kecewa karena ada rentetan peristiwa yang terjadi yang seakan-akan membuat masyarakat merasa ditoltolkan oleh peristiwa politik ini” tutupnya.***
Share this article
Lalu, aksi demo yang digelar tersebut apakah puncak dari kekecewaan dan kemarahan masyarakat? Begini kata pengamat politik