AYOJAKARTA.COM - Usai menjalani masa penahanan selama 49 hari, Pegi Setiawan mendapat kesempatan untuk memberi penjelasan.
Mengaku sempat merasa sangat bergejolak setelah rumahnya digeledah penyidik polisi, Pegi Setiawan yang saat itu berada di Bandung bertekad mengkonfirmasi.
Namun upaya memberikan klarifikasi tersebut batal dilakukan karena Pegi Setiawan, atas anjuran Yanti selaku kuasa hukum belum menerima panggilan resmi dari pihak kepolisian.
Saat menjalani interogasi, Pegi Setiawan mengaku sempat mendapat sejumlah perbuatan kurang menyenangkan yang dilakukan oleh oknum anggota polisi.
Baca Juga: 60.000 Peserta Didik Gagal Cair KJP Plus 2024 Gelombang 2? Bantuan Juli Akhirnya Cair Dobel 3 Bulan
Meski sudah berusaha memberikan penjelasan dan mendapatkan sejumlah perlakuan yang menurut Pegi bisa menjatuhkan mental, penyidik tidak menggubris.
Menurut Pegi, alasan para penyidik tetap memperlakukannya dengan kurang baik karena sudah meyakini keterkaitannya dengan kasus tewasnya Vina.
Salah satu alasan Pegi Setiawan dianggap sebagai pelaku dan dalang kematian Vina, adalah keterangan dari saksi Aep yang mengaku berada di lokasi saat kejadian.
Mengaku sama sekali tidak mengenal Aep yang membuatnya menjalani pengalaman tidak menyenangkan, Pegi berharap bisa bertemu dengan Aep untuk melakukan percakapan.
“Saya sama sekali tidak mengenal Aep, saya juga penasaran, kalau dia mau keluar saya mau diskusi dan bertanya kenapa saya dituduh,” ungkap Pegi dikutip dari kanal Youtube Akbar Faizal Uncensored, Selasa (16/7/2024).
Sebelum akhirnya ditetapkan sebagai DPO oleh Rudiana, Pegi mengaku tidak memiliki hubungan yang terbilang dekat dengan sejumlah terpidana.
Dari sejumlah nama terpidana yang sudah divonis seumur hidup, Pegi tidak menyangkal mengenal Sudirman karena pernah satu sekolah.
Dianggap sebagai pribadi yang kurang responsif karena gangguan pendengaran, Sudirman sempat tinggal kelas dan tidak lagi bertemu Pegi.
Meski memiliki sepeda motor, Pegi Setiawan yang merupakan anak sulung dari empat bersaudara meyakini tidak pernah menjadi bagian dari anggota geng motor.
Menjadi tulang punggung keluarga, sepeda motor yang dimiliki Pegi lebih sering dipergunakan sebagai alat transportasi untuk mengantar-jemput adik bersekolah.
Selama bekerja sebagai buruh bangunan di Bandung, Pegi mengaku tidak lagi bisa melakukan antar-jemput seperti biasanya hingga kemudian diringkus polisi.
Baca Juga: Capai 3.848 Pendaftar, Inilah 9 Fakultas Paling Ramai Peminat di Institut Teknologi Bandung (ITB)
Selain pemukulan di bagian wajah, bagian kepala Pegi juga sempat ditutupi dengan plastik kresek hitam hingga sempat mengalami kesulitan untuk bisa bernafas.
Minim waktu untuk istirahat, hingga terpaksa tayamum untuk bisa sholat, Pegi mengaku tidak bisa memastikan posisi arah kiblat.
“Saya maksain buat sholat, mau wudhu gak boleh keluar saya pakai debu, terpaksa nyari kain untuk nutupin dengkul, sholat saya nggak tahu arah kiblat,” ungkap Pegi. ***

Share this article
Tatap lakukan ibadah meski di dalam sel, Pegi Setiawan terpaksa lakukan ini saat datang waktu sholat.