AYOJAKARTA.COM – Salah satu program nasional yang belum lama ini menjadi sorotan adalah rencana penyebaran nyamuk Wolbachia.
Penyebaran nyamuk Wolbachia, menurut sejumlah kalangan bisa menekan angka penderita yang diakibatkan oleh nyamuk Demam Berdarah Dengue atau DBD.
Meski telah melewati sejumlah penelitian yang dilakukan World Mosquito Program atau WMP, penyebaran nyamuk Wolbachia tetap mendapat sorotan dari sejumlah kalangan.
Baca Juga: 5 Fakta Nyamuk Wolbachia, Tidak Berbahaya dan Bukan Rekayasa Genetik
Menurut pihak-pihak yang menentang, penyebaran nyamuk Wolbachia di sejumlah titik di Indonesia bisa berdampak bagi ekologis.
Pendapat yang senada juga sempat disampaikan oleh sejumlah warganet ketika Pemerintah Provinsi Bali berencana menekan dampak angka DBD.
Melalui komentar-komentar pedas di media sosial, warganet meminta agar penyebaran nyamuk di Bali ditiadakan.
Baca Juga: SAH! Heru Budi Resmi Naikkan UMP 2024 DKI Jakarta Jadi Rp 5,06 Juta
Kendati menuai kritik dari kalangan publik, namun penyebaran nyamuk Wolbachia tetap dilakukan oleh Pemprov Bali.
Sehubungan dengan adanya fenomena yang disebabkan penyebaran nyamuk tersebut, mantan Gubernur Bali I Wayan Koster memberi tanggapan.
Menurut Wayan, sebagai salah satu pejabat yang sempat menandatangani Nota Kesepemahaman atau MoU dengan WMP; pihaknya telah melakukan pendalaman.
Berdasarkan statistik, jumlah kasus DBD di Bali yang mencapai angka 5.900 kasus atau urutan ketiga terbesar nasional, membuat Koster perlu bertindak.
Baca Juga: Firli Bahuri Hindari Wartawan Usai Diperiksa Bareskrim karena Kurang Tidur, ISESS: Sulit Dipercaya
Jumlah angka kasus kematian akibat DBD di Bali yang mencapai angka 13 orang per September 2023, membuatnya perlu membuat kebijakan.
Pertimbangan lain alasan Koster menanda-tangani MoU adalah status Bali yang baru pulih dari pandemik Covid serta destinasi wisata internasional.
Karena alasan-alasan tersebut, Koster kemudian mengupayakan jalan keluar dengan tujuan agar lingkungan kehidupan masyarakat menjadi lebih sehat.
“Nah karena itulah, saya waktu itu mempertimbangkan untuk mau melakukan kerjasama dengan World Mosquito Program,” jelas Koster.
Baca Juga: 2 Cara Mengecek Pengumuman Hasil SKD CPNS 2023 Lengkap Dengan Daftar Link Berbagai Instansi
Lebih lanjut, Koster menjelaskan penandatanganan dengan WMP dilakukan pada 7 November 2022 dengan menggandeng yayasan Alertasia sebagai mitra Pelaksana.
Namun demikian, program yang belum berjalan ini pada Februari 2023 terjadi perubahan mitra Pelaksana dari Alert Asia menjadi Save The Children.
“15 Februari 2023, WMP mengajukan perubahan mitra pelaksana yang di Bali yaitu Save the Children,” ungkap Koster.
Baca Juga: Kenali Modus Penipuan dan Cara Kerja Pelaku Kejahatan di WhatsApp, Jangan Asal Buka Kiriman Tautan
Setelah melakukan pengkajian bersama dengan sejumlah ahli kesehatan, Koster kemudian melakukan pertimbangan dan pendalaman lebih lanjut terkait perubahan mitra Pelaksana.
Adanya perubahan nama mitra pelaksana membuat Koster berubah pikiran dan memutuskan untuk membatalkan MoU dengan WMP.
“Saya takut ini ada apa-apa, jadi saya tidak mau,” ungkap Koster dikutip Ayojakarta pada Selasa, 21 November 2023 dari kanal Youtube jeg bali. ***

Share this article
I Wayan Koster membatalkan MoU penyebaran nyamuk Wolbachia di Bali setelah pertimbangan dan perubahan mitra pelaksana.