AYOJAKARTA.COM - Puluhan biksu yang melakukan Thudong atau berjalan kaki dari Thailand telah tiba di Candi Borobudur pada Kamis 1 Juni 2023 sore.
Sebelumnya, pada 11 Mei 2023 lalu para biksu dari berbagai negara yang melakukan thudong memulai perjalanan dari Jakarta menuju ke Bekasi.
Selain menjalani ritual thudong, sebanyak 32 orang biksu juga kerap mendapat sambutan luar biasa di setiap kota yang mereka singgahi.
Bukan saja perjamuan yang dilakukan umat lintas agama, sejumlah masyarakat, ormas dan pihak keamanan secara estafet juga ikut melakukan pengawalan.
Baca Juga: Raih Pencerahan Sempurna Saat Waisak, Kisah Pangeran Sidharta yang Akan Membuat Manusia Bahagia
Selama dalam perjalanan thudong, para biksu atau bante akan beristirahat di vihara atau rumah-rumah ibadah agama lain.
Setibanya di Borobudur, Magelang Indonesia para biksu bersama dengan umat Buddha lainnya melakukan ritual Pradaksina.
Pradaksina adalah ritual jalan kaki atau meditasi berjalan mengelilingi puncak Candi Borobudur sebanyak tiga kali putaran dengan mengikuti arah jarum jam.
Dalam pelaksanaan ritual Pradaksina, para biksu dan umat akan memakai alas kaki khusus atau disebut Upanat.
Baca Juga: 32 Biksu Thudong Sampai di Candi Borobudur, Diwarnai Tangis Bahagia Usai Berjalan Kaki 2 Bulan
Sebelum melakukan Pradaksina, para biksu beserta dengan umat Buddha akan memanjatkan puja bakti di depan stupa induk.
Setibanya di tempat yang menjadi tujuan thudong, para biksu merasakan kebahagiaan serta rasa yang haru mendalam.
Hal tersebut diungkapkan oleh Bhante Wawan yang merupakan biksu Indonesia asal Cirebon serta salah satu penggagas lokasi thudong.
“Yang mempunyai tekad sampai akhir mereka semua sedih, bukan sedih nangis tetapi sedih terharu karena keinginannya tercapai,” jelasnya.
Selama mengikuti proses thudong mulai dari Thailand, Bante Wawan mengaku tidak banyak menemui kendala yang berarti.
Usai ritual keagamaan di Candi Borobudur, Bante Wawan menyempatkan diri menjawab pertanyaan dari para biksu di penjuru dunia melalui sambungan telepon.
“Kemaren dapat telepon dari England, Jepang maupun dari negara lain, mereka banyak bertanya,” ungkap Bante yang juga disebut Bante Kantadamo.
Dalam percakapan telepon tersebut, sejumlah biksu dari berbagai negara mempertanyakan peran umat agama lain dalam ritual Thudong.
“Mereka bertanya, apakah benar yang mengawal, memberikan perbekalan adalah orang-orang muslim, saya menjawab iya,” terang Bante Wawan.
Baca Juga: Update 32 Biksu Thudong dari Thailand Kini Sudah Tiba di Semarang, Siap Menuju Candi Borobudur
Dalam kesempatan tersebut, bante asal Cirebon ini mengaku sering melakukan thudong tetapi yang paling berkesan dan toleran adalah di Indonesia.
“Kita sudah memasuki beberapa negara dan di Indonesia ini yang benar-benar super toleran, bante lain juga merasakan itu sampai haru,” pungkasnya.
Demikian seperti dikutip Ayojakarta pada Jumat 2 Juni 2023 dari YouTube All In One Indramayu.***

Share this article
Biksu asal Indonesia peserta thudong mengungkap fakta mengejutkan ini pada dunia setelah sampai di Candi Borobudur.