AYOJAKARTA.COM - Pemiihan umum 2019 menyisakan cerita kelam karena meninggalnya ratusan petugas pemilu yaitu KPPS, PPS dan PPK di level kelurahan/ kecamatan/ kabupaten.
Menurut data Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI pada tanggal 4 Mei 2019 jumlah petugas Pemilu 2019 yang meninggal mencapai 440 orang. Sementara itu, jumlah petugas yang sakit mencapai 3.788 orang.
Berdasarkan kajian lintas disiplin dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang melibatkan Fakultas ISIPOL, Fakultas KKMK, Fakultas Psikologi, dan Fakultas Geografi diperoleh sejumlah fakta ilmiah yang perlu diwaspadai agar jangan terulang.
Baca Juga: Tipe-Tipe Pembohong yang Perlu Kamu Diwaspadai, Potensi Bahaya Praktik Manipulasi Selalu Mengintai
Kajian lintas disiplin atas kasus KLB (Kejadian Luar Biasa) yang menimpa Petugas Pemilu di DIY tahun 2019 telah menemukan beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap kematian dan kesakitan petugas.
Hasil Otopsi Verbal:
- Seluruh petugas yang meninggal berjenis kelamin laki-laki, dengan usia 46-67 tahun.
- 80% memiliki riwayat penyakit kardiovaskular dan 90% merokok.
- Kematian terjadi secara natural, tanpa indikasi kekerasan.
- Dugaan penyebab kematian terkait dengan riwayat penyakit kardiovaskular.
Temuan Survei:
- Beban kerja Petugas Pemilu tinggi: 20-22 jam pada hari H, 7,5-11 jam untuk persiapan TPS, dan 8-48 jam untuk undangan.
- 30% Petugas TPS melaporkan gangguan jalannya Pemilu.
- 20% gangguan terkait administrasi, perhitungan suara, dan pengetahuan petugas (bisa diatasi dengan BIMTEK lebih baik).
- 9% keluhan terkait manajemen logistik.
- 80% Petugas Pemilu merasa tuntutan pekerjaan tinggi, dengan 83% memiliki keterlibatan kerja tinggi, dan 74% merasa kelelahan sedang-tinggi.
- Petugas Pemilu yang sakit merasa dituntut bekerja lebih tinggi dan memiliki tingkat kelelahan lebih tinggi.
Temuan Studi Kasus Kontrol:
- 74 Petugas Pemilu menyatakan sakit (65 terdata KPU DIY).
- 70% Petugas Pemilu yang sakit adalah KPPS, 28% PPS dan PPK, sisanya Petugas Logistik.
- Usia 19-70 tahun, rerata 42,5 tahun; 73% laki-laki.
- 84% memiliki pekerjaan lain, 70% pekerja penuh waktu.
- Riwayat Diabetes Mellitus (DM), penyakit jantung, dan riwayat lebih dari 1 penyakit meningkatkan risiko sakit.
Temuan Lainnya:
- Manajemen krisis di tingkat bawah kurang efektif.
- Penyelenggara pemilu di lapangan tidak cukup mengetahui apa yang harus dilakukan jika terjadi hal-hal di luar perkiraan.
Kesimpulan:
- Penyebab kematian natural dan diduga karena riwayat penyakit kardiovaskular.
- Beban kerja Petugas KPPS sangat tinggi sebelum, selama, dan sesudah hari pemilihan.
- Ada kendala terkait bimtek, logistik, dan kesehatan.
- Beban kerja tinggi dan riwayat penyakit menjadi penyebab atau meningkatkan risiko kematian dan kesakitan.
- Ada berbagai persoalan psikologis seperti kecemasan dan reaksi stres fisik pada Petugas Pemilu.
- Diperlukan perbaikan manajemen krisis dalam penyelenggaraan pemilu.
Rekomendasi:
- Melakukan pengecekan kondisi kesehatan fisik dan mental saat rekruitmen petugas.
- Memberi pelatihan lebih optimal kepada petugas selama persiapan pemungutan suara.
- Memperkuat manajemen krisis dalam Pemilu di Indonesia, dimulai dari Pilkada serentak 2020.
Kajian ini diharapkan dapat membantu KPU dan Bawaslu dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan Pemilu di masa depan, sehingga terhindar dari KLB serupa.

Share this article
Pemiihan umum 2019 menyisakan cerita kelam karena meninggalnya ratusan petugas pemilu yaitu KPPS, PPS dan PPK .