AYOJAKARTA.COM - Politisi PDIP Deddy Sitorus menyuarakan pentingnya ada hak angket untuk menyikapi dugaan kecurangan Pemilu 2024.
Menurutnya diadakannya hak angket untuk menjawab banyak persoalan-persoalan seperti melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan undang-undang.
Atau kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan hal penting strategis yang berdampak luas pada kehidupan masyarakat yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
Baca Juga: Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Yakin Hak Angket Terus Bergulir untuk Ketahui Kecurangan Pemilu 2024
“Menurut saya mempercakapkan ini dalam forum DPR adalah hal yang konstitusional, walaupun sekarang yang sangat gerah menurut saya justru orang yang diframing sebagai pemenang pemilu,” ujar Deddy Sitorus dikutip Ayojakarta.com dari YouTube Indonesia Lawyers Club pada Jumat (1/3/2024).
“Saya bingung sejak kapan hak angket menjadi drama yang begitu menakutkan, dalam sejarah bangsa ini sejak zaman Bung Karno ya hak angket selalu terjadi dari satu pemerintah ke pemerintahan lainnya,” sambungnya.
Menurutnya dari era pemerintahan Presiden Soekarno, Soeharto, Gusdur, Megawati, hingga SBY tidak pernah ada masalah dengan hak angket.
Politisi PDIP ini menilai bahwa Pemilu tahun 2024 merupakan Pemilu paling brutal dalam sejarah.
Bahkan dirinya mendapati langsung apa saja kecurangan-kecurangan yang terjadi karena diri nya juga menjadi calon anggota legislatif dan terjun melihat secara langsung ke lapangan.
“Ini Pemilu paling brutal dalam sejarah, betul. Saya calon anggota legislatif juga kemarin, saya bertemu dengan banyak kepala desa yang mengaku dipanggil,” kata Deddy Sitorus.
“Saya bertemu dengan kepala dinas yang mengaku disuruh,” imbuhnya.
Baca Juga: Hak Angket Cara Ungkap Kecurangan dalam Pemilu, Ganjar Pranowo: Kalau Merasa Benar Nggak Perlu Takut
Calon anggota legislatif dari PDIP ini bahkan kaget karena baru kali ini mendapati bahwa memilih presiden bisa mendapatkan amplop Rp300 ribu.
“Baru kali ini bapak ibu, mohon maaf. Sepanjang sejarah, memilih presiden pun dapat amplop Rp300 ribu belum pernah dalam sejarah,” ungkap Deddy Sitorus.
Ia menilai bahwa Pemilu kali ini sudah turun derajatnya seperti Pilkades, menurutnya jika hal ini terus terjadi maka sudah pasti Pemilu akan dimenangkan oleh orang yang punya kuasa dan uang.
“Jadi Pilpres kita turun derajat jadi kayak Pilkades, ini kan luar biasa. Lalu kalau ini yang mau kita wariskan ke depan buat apa kita punya Pemilu?” timpalnya.
“Karena sudah pasti Pemilu itu akan dimenangkan yang punya kuasa dan yang punya uang tidak ada rumus lainnya,” tambahnya.***

Share this article
Politisi PDIP Deddy Sitorus sebut Pemilu kali ini paling brutal, memilih presiden dapat amplom uang Rp300 ribu.