AYOJAKARTA.COM — Potensi terjadinya gempa Megathrust yang terjadi Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, masih menimbulkan kecemasan bagi banyak kalangan.
Selain karena tingkat kerusakan yang tinggi, kecemasan terhadap gempa Megathrust juga disebabkan oleh potensi hadirnya fenomena gelombang besar Tsunami.
Terlebih karena di kedua zona wilayah tersebut, dikenal memiliki tingkat populasi yang tidak sedikit sehingga berpeluang memperbesar fatalitas akibat gempa Megathrust.
Sehubungan dengan adanya perspektif tersebut, Pakar Geologi dan Dosen Teknik Geofisika Institut Teknologi Surabaya memberi pandangan.
Menurut Dr. Amien Widodo, sebagian besar wilayah di Indonesia dari sepanjang Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara hingga Sulawesi merupakan titik rawan gempa.
Baca Juga: Kesiapan Hadapi Gempa Megathrust, Bagaimana Mitigasinya? Begini Kata Pakar Geologi ITS
Sehingga potensi terjadinya gempa Megathrust di sejumlah wilayah Indonesia merupakan sebuah hal yang tidak dapat dihindarkan.
Namun demikian, Dr. Amien menyebut bahwa gempa besar akibat tumbukan antar lempeng membutuhkan waktu yang relatif lama.
“Karena pergeseran terjadi pelan-pelan, mungkin waktunya bisa ratusan tahun, bisa seratus atau dua ratus tahun,” ungkap Dr. Amien, dikutip dari kanal YouTube KOMPASTV pada Rabu, 11 September 2024.
Momentum kulminasi dari pergeseran lempeng juga berbeda waktu, sebagaimana di sepanjang Pulau Jawa.
Mengacu pada data historis yang ada, gempa besar disertai dengan fenomena tsunami yang terjadi di Pulau Jawa terakhir kali terjadi pada sekitar tahun 1300.
Lebih lanjut, Dr. Amien menambahkan bahwa salah satu indikasi yang dapat diketahui akan terjadinya gempa adalah perubahan intensitas jumlah gempa dari biasanya.
Meski memiliki magnitudo relatif kecil, peningkatan intensitas fenomena gempa dapat menjadi indikasi terjadinya akumulasi tektonik di sebuah wilayah.
Peningkatan intensitas dan frekuensi gempa, menurut Dr. Amien pernah tercatat pada tahun 2005 di Yogyakarta yang kemudian memuncak pada 2006.
Sehingga kepastian waktu akan terjadinya gempa bumi Megathrust di suatu wilayah yang dikuatirkan masyarakat, juga masih menjadi persoalan bagi para peneliti.
Menghadapi potensi terjadinya gempa bumi Megathrust sebagaimana disebut oleh BMKG, Dr. Amien menilai agar masyarakat tidak perlu bereaksi secara berlebihan.
“Gempa itu sebenarnya tidak membunuh, karena yang menewaskan itu adalah bangunan yang runtuh,” jelas Dr. Amien.
Untuk itu dalam membuat suatu bangunan, pemerintah serta masyarakat luas juga perlu memperhitungkan aspek potensial gempa.
Dengan menyiapkan bangunan yang mampu beradaptasi dengan gempa, maka potensi timbulnya korban jiwa akan semakin minim.
Selain fisik, Dr. Amien juga mengingatkan pemerintah untuk senantiasa melakukan edukasi dan memberi pemahaman ke masyarakat akan pentingnya tindakan pencegahan atau mitigasi.***

Share this article
Potensi terjadinya gempa Megathrust yang terjadi Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, masih menimbulkan kecemasan bagi banyak kalangan.