AYOJAKARTA.COM – Ketiga pasangan calon (paslon) telah menghadapi debat Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) di JIEXPO Kemayoran pada Minggu (6/10/2024).
Pakar Komunikasi Politik, Hendri Satrio mengatakan debat perdana Pilgub Jakarta berlangsung sangat asik dan program yang ditawarkan juga realistis.
Namun, Hendri menilai ketiga paslon pada debat perdana belum ada yang berani mengungkapkan rencana kedepan untuk Jakarta.
Seperti yang diketahui, ibu kota Indonesia akan dipindahkan ke Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.
Tentu pemindahan ibukota ke IKN akan membuat status Jakarta berubah dan belum diketahui seperti apa rencana untuk kota tersebut kedepannya.
“Ada CCTV, jobfair, balai rakyat, 200 juta per RW, melawan agenda global supaya kita independen, itu kan cakep-cakep. Maksud saya, itu realistis dan bagus apalagi tadi kan disampaikan semuanya berdasarkan APBD sudah ada. Tapi menurut saya belum ada yang berani mengungkapkan kalau nanti nggak lagi jadi ibukota terus mau gimana,” kata Hendri dikutip dari kanal YouTube Metro TV, Selasa (8/10/2024).
Hendri menilai para paslon harus sudah memiliki rencana untuk kelangsungan Jakarta setelah tidak lagi menjadi ibukota.
Menurutnya, sudah harus ada rencana untuk mengelola aset-aset yang ada di Jakarta.
Meski begitu, Hendri mengaku berbagai gagasan yang dipaparkan oleh ketiga paslon bisa dipahami masyarakat Jakarta.
“Banyak yang kosong, terus aset-aset itu mau diapain aja. Tapi itu nanti lah. Tapi saya sih cukup senang dengan apa yang disampaikan kemarin sehingga rakyat Jakarta minimal sekarang juga memahami kira-kira programnya apa,” ungkapnya.
Hendri juga menyarankan kepada ketiga paslon agar tidak membuat program kerja yang terlalu berpihak pada generasi Z.
Menurutnya, masih ada generasi seperti milenial atau boomers yang masih difokuskan.
Namun, bagi Hendri yang terpenting adalah agar ketiga paslon bisa menjaga lisannya dengan baik.
Sebab, berdasarkan kontestasi sebelumnya terdapat paslon yang elektabilitasnya tinggi, tetapi akibat tidak menjaga lisan harus menerima kekalahan.
“Kalau saran saya jangan juga terlalu gen Z, tapi juga milenial, boomers kan juga masih banyak, jadi nggak terlalu fokus disana. Hanya saja pesan saya kepada tiga paslon ini jaga lisan karena beberapa kali Pilgub Jakarta itu yang surveynya paling tinggi gara-gara lisannya kepleset kemudian jadi kalah. Karena warga Jakarta ini benar-benar nunggu sampai hari H pada saat dia di TPS,” tutupnya.***

Share this article
Pakar Komunikasi Politik, Hendri Satrio menilai ketiga paslon pada debat perdana belum ada yang berani mengungkapkan rencana soal IKN