AYOJAKARTA.COM - Publik Indonesia baru-baru ini dikejutkan dengan kemunculan grup Facebook bernama "Fantasi Sedarah" yang berisi ribuan anggota dengan indikasi ketertarikan terhadap keluarga atau kerabat dekat.
Fenomena mengkhawatirkan ini menjadi sorotan karena di dalam grup tersebut juga ditemukan konten yang melibatkan anak-anak sebagai korban, termasuk unggahan yang dilakukan oleh orang tua kandung mereka sendiri.
Menurut Putri Rahayu, Psikolog Klinis yang menjadi narasumber dalam pembahasan ini, kemudahan akses digital di era sekarang menjadi salah satu faktor pendorong meningkatnya kasus semacam ini.
"Akses untuk digitalisasi di era sekarang tuh sangat-sangat mudah, apalagi sekarang kan untuk menaikkan konten dan lain sebagainya itu juga aksesnya bisa dijangkau oleh berbagai usia dan berbagai kalangan latar belakang," jelas Putri.
Faktor lain yang menyebabkan perilaku menyimpang ini termasuk minimnya edukasi seksual, latar belakang ekonomi yang kurang memadai, serta kemampuan mengelola pemikiran atau adanya disfungsi kognitif.
Situasi ini diperparah dengan kenyataan bahwa kasus inses seringkali sulit terdeteksi karena terjadi di ruang privat dan terdapat bias dalam mengidentifikasi perilaku abnormal dalam keluarga.
Putri menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mengidentifikasi kasus-kasus semacam ini, "Kalau ada aktivitas anak sama orang tua atau ayahnya lagi tinggal berdua sama anak perempuan, mungkin ya, terus mamanya sedang bekerja atau lagi ada aktivitas di luar rumah, yang mungkin bisa aware adalah tetangganya.
Baca Juga: Update Status Pencairan PKH dan BPNT Tahap Kedua di KKS Mandiri Mei 2025, Wilayah Ciamis Cair?
Saat tetangga ini mungkin melihat aktivitas yang tidak biasa di antara ayah dan anak perempuannya atau bahkan lawan jenis dari ibu si anak laki-laki, sebenarnya si tetangga atau orang-orang terdekat itu sudah harus mengungkapkan atau melaporkan karena itu juga bagian dari tindakan pidana."
Putri juga menyarankan tindakan yang harus diambil ketika menemukan kasus serupa, yaitu melapor dan memisahkan pelaku dari korban.
"Korban akan berdampak secara psikologis, baik fisik ataupun dia kalau misalnya sampai melahirkan, itu kan tekanan mentalnya sungguh-sungguh berat banget sebenarnya, jadi sehingga kita perlu melakukan pendampingan," tambahnya.
Untuk mengurangi kasus semacam ini, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak, termasuk pemerintah. Putri menekankan pentingnya edukasi yang komprehensif dan berkesinambungan, tidak hanya saat kasus menjadi viral.
"Kita harusnya bahu-membahu, baik dari sisi pendidikan, baik dari tempat posyandu mungkin, atau tempat-tempat seperti sosialisasi di berbagai perkampungan. Baik di daerah maupun di kota Jakarta sekalipun, itu sebenarnya tidak saat gempar saja, tidak saat viral saja kasus ini, tapi memang seks edukasi juga perlu dimasukkan ke dalam sebuah kurikulum," ujarnya.
Psikolog Klinis ini juga menegaskan bahwa kasus kekerasan seksual, tidak otomatis dikategorikan sebagai gangguan jiwa, namun perlu pendalaman kasus per kasus.
"Kita tidak mencari celah di mana salahnya ada yang dia memang latar belakangnya seperti apa, bukan kita mengkota-kotakan latar belakang seseorang, namun kita harus perlu menggali sebuah kasus. Saya tidak bisa mengatakan bahwa oh berarti ODGJ, enggak," jelasnya.
Putri menekankan bahwa rumah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak-anak, sehingga kasus inses yang melibatkan orang tua adalah bentuk pelanggaran yang sangat serius terhadap rasa aman anak.***
Share this article
Grup FB "Fantasi Sedarah" viral, isinya indikasi inses & eksploitasi anak. Psikolog: edukasi seks & peran warga penting cegah kasus.