AYOJAKARTA.COM - Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD baru-baru ini menyatakan bahwa banyak sekali orang baik di Indonesia.
Sayangnya, menurut Mahfud MD orang-orang baik tersebut tidak bisa menjadi pejabat di negerinya sendiri.
“Banyak sekali orang-orang baik di sekitar saya ini, di kampus-kampus. Cuma dia nggak jadi pejabat yang mengambil keputusan karena selalu dipotong. Mau naik dipotong, mau naik dipotong gitu,” kata Mahfud MD dikutip AyoJakarta.com dari kanal YouTube MetroTV, Rabu (31/5/2023).
Mahfud MD mengungkapkan bahwa orang-orang baik tersebut memiliki potensi untuk menjadi pemimpin.
Menurutnya, jika orang-orang baik tersebut bisa menjadi pemimpin di negeri ini maka Indonesia akan menjadi negara yang hebat.
Akan tetapi, Mahfud melihat bahwa orang-orang baik yang ada saat ini justru dikerdilkan oleh para penguasa.
Baca Juga: Gaya Flexing Pejabat Jadi Sorotan, Mahfud MD: Itu Tak Melanggar Hukum Asal Barangnya Halal
Sehingga tidak ada kesempatan dan jalan yang terbuka untuk mereka berkontribusi membangun negara.
“Sebenarnya kalau seumpama ada keajaiban ya, orang-orang yang baik ini bisa memimpin, wah hebat negara,” ungkapnya.
“Saya bisa carikan di setiap kampus, minimal 100 tokoh-tokoh yang bisa. Tapi mereka kan lalu dikerdilkan, nggak bisa pada posisi pengambil keputusan, tak bisa pada posisi perumus hukum. Itu yang menjadi perumus hukum dia sudah terkontaminasi, hakim menjadi rusak,” sambungnya.
Lebih jauh, Mahfud amat yakin bahwa Indonesia tidak kekurangan orang baik yang berpotensi menjadi pemimpin.
Ini karena Mahfud melihat masih banyak orang baik dan Indonesia merupakan negara yang penuh berkah.
“Saya yakin lah banyak orang baik karena Indonesia ini penuh berkah. Orang baiknya juga banyak dan saat-saat kritis ketika negaranya akan ambruk kira-kira, Tuhan selalu turun tangan, ini kamu perbaiki, ini kamu perbaiki, selalu begitu,” tutupnya.***

Share this article
Namun, Mahfud MD justru melihat bahwa orang-orang baik yang ada saat ini justru dikerdilkan oleh para penguasa.