AYOJAKARTA.COM – Kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa Cianjur belum sepenuhnya bisa teratasi, namun sudah disusul oleh gempa-gempa yang menerjang daerah lain seperti Garut dan Sukabumi.
Lokasi Indonesia yang berada diantara pertemuan lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Lempeng-lempeng ini memiliki sifat selalu bergerak, maka tidak heran jika Indonesia sering dilanda gempa.
Aktifitas lempeng yang paling berbahaya adalah timbulnya gempa berkekuatan besar yaitu gempa megathrust yang tidak hanya akan menghasilkan gempa di darat saja namun bisa menghasilkan gelombang tsunami.
Dilansir AyoJakarta.com dari kanal YouTube Narasi Newsroom pada Kamis, 8 Desember 2022, menurut ahli geofisika asal Inggris yaitu Mckenzie dan Robert Parker, bagian luar bumi tersusun dari lempengan tektonik yang bergerak.
Penjelasan mereka ini kemudian disebut dengan teori lempeng tektonik. Lempeng yang ada di dunia berjumlah 7, dan pertemuan 3 di antaranya berada di Indonesia.
Permukaan lempeng ini bisa berupa benua atau juga samudra. Lalu lempeng-lempeng ini selalu bergerak secara perlahan selama jutaan tahun.
Baca Juga: Tetap Waspada! Gempa Jember Berada di Luar Zona Megathrust, Tetapi Bahayanya ...
Pergerakan lempeng-lempeng tersebut bisa saling gesek, menjauh atau bertumbukan. Jika ada tumbukan antara lempeng benua dengan lempeng samudra maka akan terjadi subduksi dan menyimpan energi yang sangat besar.
Posisi lempeng samudra akan menyelinap dibawah lempeng benua karena adanya perbedaan masa jenis. Ketika energi besar tadi dilepaskan maka akan memicu gempa bumi berkekuatan besar.
Kejadian inilah yang disebut dengan megathrust yang berpotensi menimbulkan tsunami. Ini akan terjadi pada zona subduksi atau zona megathrust.
Di indonesia sendiri terdapat 13 segmen zona megathrust yang tersebar dari Aceh hingga Papua dengan potensi megathrust bisa mencapai 8 sampai 9 magnitudo.
Baca Juga: Potensi Tsunami Akibat Gempa Megathrust M 9,1, Ini yang Mesti Dilakukan Saat Terjadi
Sudah 20 gempa megathrust terjadi di Indonesia, tercatat dari tahun 1699 sampai tahun 2010. Selama ini terdapat seismik gap di zona subduksi selatan Jawa.
Menurut Dr. Ing Widyo Kongko sebagi kepala PRTH BRIN, secara tektonik daerah ini merupakan area yang aktif namun tidak pernah terjadi gempa dalam waktu yang lama. Maka dari itu wilayah selatan Jawa menyimpan potensi gempa yang lebih besar.
“Secara umum bisa dikatakan loh ini ada gempa yang masih belum lepas ini tersimpan sehingga kita sebut dengan seismik gap,” ujar Ing Widyo Kongko, dikutip dari kanal YouTube tvOneNews, Kamis, 8 Desember 2022.
Terdapat 3 wilayah zona senyap atau seismik gap yaitu Selat Sunda, Selat Jawa, dan Selat Bali.
“Kalau saya bilang si kalau gempa megathrust mungkin kita belum siap ya. Saya harus mengatakannya demikian,” kata Ing Widyo Kongko.
Ketidaksiapan ini terbukti dengan ketika terjadi gempa di darat akibat sesar dengan skala relatif lebih kecil, Indonesia sangat kewalahan. Apalagi jika dihadapkan dengan megathrust yang merupakan gempa dengan skala ekstrem.***

Share this article
Sudah 20 gempa megathrust terjadi di Indonesia, tercatat dari tahun 1699 sampai tahun 2010. Akankah ada lagi?