AYOJAKARTA.COM – Nama Anies Rasyid Baswedan mulai akrab di telinga masyarakat Indonesia pada kisaran tahun 2013.
Sosok Anies Rasyid Baswedan yang semula lebih dikenal sebagai seorang akademisi, mulai bergeser saat mengikuti konvensi calon presiden dari Partai Demokrat.
Jumlah perolehan kursi Partai Demokrat di DPR yang belum memungkinkan, membuat harapan Anies Rasyid Baswedan tertunda.
Baca Juga: Tawa Anies Baswedan Bertemu dengan Agus Yudhoyono Jelang Pilpres 2024: Tim Koalisi Kecil Perubahan
Anies kemudian bermanuver dan memutuskan bergabung sebagai juru bicara Koalisi Indonesia Hebat atau KIH yang mengusung pasangan Jokowi-JK.
Di tahun pemilihan tersebut, KIH merupakan gabungan kekuatan partai politik yang terdiri dari PDIP, PKB, Partai Nasdem, Hanura, dan PKP.
Tanpa dukungan Partai Demokrat yang pertama kali mendukungnya, di Koalisi Indonesia Hebat Anies berperan sebagai Juru Bicara.
Kemenangan besar yang dilakukan KIH kemudian mengantarkan Anies Baswedan untuk menjabat kursi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Tidak sedikit gebrakan yang dilakukan Anies semasa menduduki jabatan sebagai orang nomor satu di Kemendikbud saat itu.
Baca Juga: Mengejutkan! Nunung Srimulat Tiba-Tiba Terkena Kanker Payudara, Begini Kronologinya
Dari perubahan sistem ujian nasional, peninjauan ulang kurikulum pendidikan, hingga sejumlah program lain di dunia pendidikan, seperti Indonesia Mengajar.
Kiprah Anies Baswedan sebagai Mendikbud kandas di tahun 2016 setelah Presiden Joko Widodo mencopot dan menggantikannya dengan Muhadjir Efendy.
“Saya tidak ingin bertanya, saya ingin menjaga adab dalam bernegara,” jawab Anies Baswedan terkait dengan tidak adanya alasan pencopotan yang dilakukan Presiden.
Anies Baswedan kemudian tersandung perkara Frankfurt Book Fair setelah kunjungannya ke luar negeri menghabiskan anggaran sebesar 146 miliar rupiah.
Baca Juga: Terungkap Isi Pesan Whatsapp Teddy Minahasa yang Meminta AKBP Dody Menjual Barang Bukti Sabu
Perkara dugaan korupsi yang kemudian menguap tersebut, sempat diduga karena kedekatan Anies dengan Novel Baswedan yang saat itu menjabat petinggi KPK.
Hal tersebut kemudian terbantah setelah Novel menjelaskan aturan di KPK yang melarang anggota KPK menangani kasus yang dialami kerabat sendiri.
Menang dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta di tahun 2017 atas dukungan Partai Gerindra dan PKS, nama Anies dikaitkan dengan politik identitas.
Peneliti senior LIPI, Siti Zuhro, menilai bahwa Pilkada 2017 sebagai pilkada terburuk yang gagal mengedepankan rasionalitas.
Adanya perubahan dalam hal publikasi bagi masyarakat luas, juga menjadikan Anies Baswedan mendapat banyak sorotan.
Sejak berhenti dari kursi DKI 1 pada Oktober 2022 lalu, Anies mencoba terus maju untuk bisa menduduki kursi RI 1.
Hasil survei Anies Baswedan sebagai salah satu kandidat dengan tingkat elektabilitas di urutan atas, menjadikan sejumlah partai besar kemudian mendukungnya.
“Sebagai calon presiden dari Partai Nasional Demokrat,” ujar Anies dalam pidato memperingati HUT Partai Nasdem ke 11.
Partai Nasdem, Partai Demokrat, serta Partai Keadilan Sejahtera kemudian secara resmi mencalonkan Anies sebagai Calon Presiden.
Peleburan kekuatan tiga partai untuk pemenangan kursi presiden tahun 2024 mendatang kemudian mendeklarasikan diri sebagai Koalisi Perubahan. ***

Share this article
Sosok Anies Rasyid Baswedan yang semula lebih dikenal sebagai seorang akademisi, mulai bergeser saat mengikuti konvensi calon presiden 2024.