AYOJAKARTA.COM - Bulan Ramadan kerap dijadikan alasan untuk menghentikan rutinitas olahraga.
Banyak orang khawatir merasa lemas, dehidrasi, atau bahkan pingsan saat berlatih dalam kondisi berpuasa.
Padahal, olahraga saat puasa tetap dianjurkan selama dilakukan dengan strategi yang tepat.
Dokter spesialis kedokteran olahraga dari Rumah Sakit Pelni, dr. Andi Kurniawan, menegaskan pentingnya tetap aktif selama Ramadan.
“Kita berolahraga saat puasa tentu penting karena kita harus tetap hidup aktif. Manfaat kesehatannya jauh lebih besar dibandingkan gaya hidup sedentari,” ujar dr. Andi Kurniawan dalam video di YouTube IHC RS PELNI.
Tujuan Olahraga Saat Puasa
Menurut dr. Andi, tujuan olahraga selama puasa bukan untuk meningkatkan performa atau mencetak rekor baru.
“Tujuannya adalah untuk menjaga kebugaran. Tidak disarankan meningkatkan performa karena harus menghindari dehidrasi dan hipoglikemia,” jelasnya.
Saat berpuasa, tubuh menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi karena simpanan glikogen menurun.
Oleh sebab itu, olahraga intensitas tinggi seperti HIIT atau angkat beban berat sebaiknya dihindari, terutama di siang hari.
Intensitas dan Durasi yang Disarankan
Dr. Andi merekomendasikan intensitas ringan hingga sedang dengan durasi lebih singkat dari biasanya.
“Kalau biasanya 40 sampai 60 menit, mungkin cukup 20 sampai 30 menit saja pada saat berpuasa,” katanya.
Jenis olahraga tetap bisa disesuaikan dengan kebiasaan sebelum Ramadan, seperti lari, yoga, atau bersepeda.
Namun, intensitas dan durasinya perlu diturunkan. Bagi yang baru mulai, jalan kaki atau senam ringan di rumah bisa menjadi pilihan aman.
Waktu Terbaik Berolahraga Saat Puasa
Ada tiga waktu yang direkomendasikan:
- Sebelum sahur, meski risikonya mengurangi waktu tidur.
- Menjelang berbuka puasa, dengan catatan selesai tepat sebelum azan agar cairan dan energi bisa segera diganti.
- Setelah berbuka, dengan jeda 1–2 jam setelah makan agar pencernaan tidak terganggu.
“Yang penting jangan sampai terjadi dehidrasi ataupun penurunan kadar gula darah,” tegas dr. Andi.
Perhatikan Hidrasi dan Frekuensi
Kebutuhan cairan minimal 2 liter atau sekitar 8 gelas per hari harus dipenuhi antara waktu berbuka hingga sahur.
Jika olahraga dilakukan setelah berbuka dan menyebabkan banyak keringat, pertimbangkan minuman elektrolit.
Frekuensi latihan sebenarnya bisa tetap sama seperti sebelum puasa, misalnya 3–5 kali per minggu. Yang disesuaikan adalah durasi dan intensitasnya.
Kesimpulannya, olahraga saat puasa bukan hanya boleh, tetapi juga penting. Dengan pengaturan waktu, intensitas ringan hingga sedang, serta manajemen hidrasi yang baik, tubuh tetap bugar dan ibadah puasa bisa dijalani dengan lebih optimal.***

Share this article
Olahraga saat puasa penting untuk menjaga kebugaran, bukan performa. Pilih intensitas ringan-sedang selama 20-30 menit menjelang berbuka atau setelahnya. Pastikan hidrasi cukup agar tubuh tetap aktif.