AYOJAKARTA.COM - Kuret atau kuretase adalah prosedur medis yang dilakukan untuk mengeluarkan jaringan dari dalam rahim melalui proses dilatasi (pelebaran leher rahim atau serviks) dan pengikisan menggunakan alat berbahan logam atau penyedotan (suction) dengan alat khusus.
Prosedur ini bertujuan untuk mengeluarkan jaringan endometrium, yaitu lapisan dinding rahim bagian dalam yang ketebalan dan karakteristiknya berubah selama siklus menstruasi.
Kuret dapat dilakukan untuk keperluan diagnosis pada pasien dengan kondisi perdarahan abnormal dari rahim, perdarahan setelah menopause, atau hasil pap smear tidak normal.
Tindakan ini membantu dokter mendeteksi kanker rahim, polip rahim, dan miom secara lebih akurat.
Sebagai metode penanganan, kuret bertujuan untuk mengeluarkan sisa jaringan yang tertinggal di dalam rahim pada perempuan yang keguguran untuk mencegah infeksi dan perdarahan, membuang polip jinak pada rahim, mengeluarkan plasenta yang masih tersisa pascapersalinan (retensi plasenta), mengeluarkan jaringan abnormal akibat hamil anggur, dan mengatasi perdarahan pascamelahirkan.
Prosedur kuret biasanya diawali dengan konsultasi dokter untuk mengetahui kondisi kesehatan pasien, memberikan obat bius (umumnya bius total, meski bius epidural juga bisa menjadi pilihan), dan melakukan persiapan seperti berpuasa 6-8 jam sebelum prosedur, menjalani pemeriksaan fisik, dan mengosongkan jadwal untuk pelaksanaan kuret dan masa pemulihannya.
Tahapan prosedur kuret dimulai dari memposisikan pasien berbaring telentang dengan posisi mengangkang, pemberian bius, pemasangan kateter urine pada lubang kencing, dan pemasangan alat khusus (spekulum) agar vagina tetap terbuka selama prosedur.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Wisata Jabodetabek untuk Libur Lebaran 2025
Kemudian, dokter akan melebarkan serviks menggunakan alat dilatasi berbentuk batang dan berbahan logam, diikuti dengan memasukkan alat kuret ketika serviks sudah cukup terbuka.
Selanjutnya, jaringan endometrium dan jaringan lain dikeluarkan sesuai kebutuhan, baik untuk diagnosis maupun pengobatan.
Dalam beberapa kasus, tindakan kuret dilakukan bersama dengan histeroskopi, yaitu tindakan memasukkan selang tipis berkamera ke dalam rahim untuk melihat kondisi di dalamnya.
Jaringan yang diambil kemudian dimasukkan ke dalam wadah dan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa.
Prosedur kuret umumnya berlangsung sekitar 5-30 menit, setelah itu alat kuret dan spekulum dikeluarkan dari vagina.
Pasca-kuret, pasien akan diminta untuk tetap di rumah sakit selama beberapa jam untuk pemantauan efek obat bius atau perdarahan yang mungkin terjadi.
Tergantung pada kondisinya, pasien mungkin perlu menjalani rawat inap atau dibolehkan pulang dengan anjuran untuk beristirahat sampai benar-benar pulih.
Setelah kuret, rahim memerlukan waktu untuk kembali membentuk jaringan endometrium yang normal, yang dapat mengakibatkan jadwal menstruasi mundur atau terlambat.
Pasien juga mungkin mengalami beberapa gejala seperti kram di daerah panggul, bercak darah atau perdarahan ringan dari vagina, serta pusing, mual, muntah, dan tenggorokan kering akibat efek bius total.
Baca Juga: Sering Ada saat Lebaran, Benarkah Emping Melinjo Bisa Bikin Asam Urat Kambuh?
Perawatan pasca-kuret sangat penting untuk memastikan proses pemulihan berjalan dengan baik.
Pasien dianjurkan untuk tidak berhubungan seksual selama 1-2 minggu setelah kuret atau sesuai dengan anjuran dokter, tetap beraktivitas ringan untuk mencegah pembekuan darah di kaki, namun harus menghindari aktivitas fisik berlebihan atau mengangkat benda berat.
Penggunaan pembalut direkomendasikan selama beberapa hari setelah prosedur, dengan penggantian secara teratur dan menjaga area vagina tetap bersih dan kering.
Pantangan setelah kuret juga meliputi menghindari berendam atau berenang selama 2-4 minggu untuk mencegah infeksi, tidak menggunakan tampon atau melakukan douching, serta tidak mengendarai kendaraan sendiri dalam 24 jam pertama pasca-prosedur.
Dari segi nutrisi, disarankan untuk menghindari beberapa jenis makanan yang dapat memperlambat proses pemulihan, seperti :
Baca Juga: Ini Nih Daftar HP Android dengan Kamera 0,5 Mirip iPhone, Ada Redmi sampai POCO
- makanan cepat saji yang tinggi lemak jenuh dan rendah gizi
- makanan dan minuman manis yang dapat menyebabkan fluktuasi kadar gula darah
- susu tinggi lemak dan olahannya yang berpotensi meningkatkan risiko peradangan
- kacang kedelai dan olahannya yang mengandung asam fitat tinggi
- kafein yang dapat menyempitkan pembuluh darah di rahim
- makanan pedas dan asam yang bisa memicu gangguan pencernaan
- makanan tinggi garam
Sebagai gantinya, pasien disarankan untuk mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, terutama yang kaya protein, zat besi, kalsium, serta buah dan sayur, untuk membantu mempercepat proses pemulihan.
Walaupun kuret adalah prosedur medis yang relatif aman, pasien harus waspada terhadap gejala komplikasi seperti demam, kram perut yang berlangsung lebih dari 2 hari, keluarnya cairan berbau tidak sedap dari vagina, perdarahan hebat, atau nyeri area perut yang tidak kunjung membaik, dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami kondisi-kondisi tersebut.***
Share this article
Tergantung pada kondisinya, pasien mungkin perlu menjalani rawat inap atau dibolehkan pulang dengan anjuran dokter.