AYOJAKARTA.COM — Kondisi muntah dan diare pada anak sering kali muncul sebagai respons awal terhadap demam, influenza, atau bahkan infeksi saluran pencernaan.
Meskipun bisa menjadi reaksi sementara akibat demam, jika muntah berlangsung selama 6 hingga 8 jam atau disertai diare, ada kemungkinan terjadi infeksi pada saluran pencernaan yang memerlukan penanganan segera.
Kunci utama dalam menangani anak yang mengalami muntah dan diare adalah dengan segera menggantikan cairan tubuh yang hilang.
Cairan yang kaya elektrolit, seperti oralit, sangat penting untuk mengembalikan keseimbangan cairan dan mencegah dehidrasi.
Tanda-tanda dehidrasi yang perlu diwaspadai antara lain penurunan jumlah pipis, berkurangnya air mata, dan kondisi anak yang tampak lesu.
Menurut protokol penanganan, pemberian cairan oralit sebaiknya dimulai secara bertahap.
Misalnya, dalam 15 menit pertama, berikan cairan sedikit demi sedikit. Jika anak masih muntah, penyerahan cairan dapat ditunda selama satu menit sebelum dilanjutkan kembali.
Untuk anak dengan berat sekitar 10 kilogram, volume cairan yang disarankan berkisar antara 100 hingga 200 mililiter pada awalnya.
Seiring membaiknya kondisi, asupan cairan dapat ditingkatkan dengan makanan yang lebih padat seperti buah-buahan dan jangan diberikan buah yang asam.
Meski demikian, pencampuran dengan sirup atau madu guna menambah kalori serta menjaga kadar gula darah.
Namun, bila kondisi anak semakin memburuk atau tanda-tanda dehidrasi mulai muncul, segera bawa anak ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi serius akibat dehidrasi yang terjadi pada anak-anak.
Baca Juga: Niat dan Tata Cara Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri, Istri serta Anak Laki-laki dan Perempuan
Selanjutnya, untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemberian cairan pengganti yang tepat untuk menjaga kesehatan si kecil.***
Share this article
Kunci utama dalam menangani anak yang mengalami muntah dan diare adalah dengan segera menggantikan cairan tubuh yang hilang.