AYOJAKARTA.COM - Dunia sepak bola Indonesia kini tengah dirundung dukua mendalam.
Sebab, pada laga BRI Liga 1 Arema FC vs Persebaya Surabaya pada Sabtu (1/10/2022) terjadi tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang.
Ratusan Aremania yang merupakan suporter dari Arema FC dinyatakan meninggal dunia atas tragedi tersebut.
Disebutkan bahwa pemicu dari penumpukan suporter Arema FC hingga membuat banyak korban jiwa itu adalah gas air mata yang ditembakan oleh anggota kepolisian.
Saat gas air mata itu ditembakan mereka berbondong-bondong keluar stadion dari satu titik.
Hal itu membuat penumpukan terjadi di pintu keluar yang menyebabkan terjadinya sesak napas hingga kurangnya oksigen.
Baca Juga: Laga Arema FC vs Persebaya Makan Korban Jiwa, Gilang Juragan 99 : Tidak Ada Sepak Bola Seharga Nyawa
Hal tersebu disampaikan langsung oleh Kapolda Jatim Nico Afinta.
Mereka (suporter) pergi ke satu titik hingga menyebabkan penumpukan di pintu keluar.
Penumpukan ini kemudian yang menyebabkan terjadinya sesak napas hingga kekurangan oksigen.
Dikutip AyoJakarta.com dari Teras Gorontalo berjudul "Ini Penyebab Awal Mula Tragedi di Stadion Kanjuruhan".
"Karena gas air mata itu, mereka pergi ke luar ke satu titik, di pintu keluar. Kemudian terjadi penumpukan dan dalam proses penumpukan itu terjadi sesak napas, kekurangan oksigen," kata Nico Afinta, Kapolda Jawa Timur.
Namun kepolisian menjelaskan alasan menembakkan gas air mata ke arah suporter usai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang , Sabtu 1 Oktober 2022.
Baca Juga: Kerusuhan Arema vs Persebaya, Manchester United : Kami Sangat Berduka
Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta mengatakan bahwa pertandingan sebenarnya berjalan lancar. Namun ketika laga berakhir, sejumlah pendukung Arema FC merasa kecewa.
Beberapa di antara mereka lantas turun ke lapangan untuk mencari pemain dan offisial.
Menurut Nico, pendukung Arema FC itu kemudian melakukan tindakan anarkis dan membahayakan keselamatan.
Baca Juga: Kerusuhan Arema vs Persebaya di Kanjuruhan, 124 Orang Meninggal Dunia dan Ratusan Luka-Luka
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menyebut gas air mata di Stadion Kanjuruhan, Malang, dilepaskan karena penonton mengejar pemain sepak bola.
Mahfud MD juga menyebut, sekitar 2.000 orang turun untuk mengejar para pemain.
Sasarannya lanjut dia, adalah para pemain dari kedua klub sepak bola yang bertanding, yakni Arema dan Persebaya.
Baca Juga: Imbas Kerusurahan Suporter Arema FC vs Persebaya, Jadwal Pekan 11 Liga Indonesia Ditunda
"Ada yang mengejar Arema karena merasa kok kalah. Ada yang kejar Persebaya. Sudah dievakuasi ke tempat aman. Semakin lama semakin banyak, kalau tidak pakai gas air mata aparat kewalahan, akhirnya disemprotkan," kata Mahfud MD.
Namun penembakan gas air mata ke suporter ini menjadi perbincangan serius dari warganet.
Mereka menyoroti bahwa berdasarkan aturan FIFA, penembakan gas air mata itu dilarang.
Baca Juga: Suporter Arema vs Persebaya Rusuh, Ini Tanggapan Juragan 99
Dari insiden ini, mengakibatkan setidaknya 129 orang tewas, termasuk dua petugas kepolisian.
Dari keseluruhan korban, 34 di antaranya tewas di tempat, sementara sisanya meninggal ketika mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Nico mengatakan bahwa saat ini, sekitar 180 orang masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Malang.
Selain korban jiwa, tercatat 13 unit kendaraan mengalami kerusakan, 10 di antaranya milik Polri.*** (Adriansa Bangol/ Teras Gorontalo)

Share this article
Inilah penyebab awal mula terjadinya insiden di stadion Kanjuruhan Malang pada Sabtu 1 Oktober 2022 yang sebabkan ratusan orang meninggal.