AYOJAKARTA.COM -- Sempat menuai berbagai tanggapan dari sejumlah kalangan, nama Walid di serial drama asal Malaysia bertajuk Bidaah kembali mendapat sorotan.
Mengambil latar cerita tentang kehidupan jemaah wanita di padepokan Jihad Ummah, Walid justru memanfaatkannya untuk mengeruk keuntungan pribadi.
Dengan dalil untuk memperkuat keimanan kepada Tuhan, Walid sempat berhasil memperdaya sejumlah wanita untuk dijadikan sebagai mesin penghasil endorfin.
Usai menyadari semua perilaku Walid tidak lebih dari bentuk manipulasi berkedok ajaran agama, para jemaah kemudian memberanikan diri melakukan perlawanan.
Telah mendapat jumlah penonton hingga mencapai lebih dari 2,5 miliar, tayangan serial drama Bidaah juga disaksikan sejumlah santriwati di daerah Gunung Sari, Lombok Barat.
Berbekal tayangan Bidaah tersebut, para santri kemudian melaporkan seorang Pimpinan Pondok berinisial AF ke Polresta Mataram pada 21 April 2025.
Dalam laporannya, belasan santriwati mengaku telah mengalami tindak pencabulan dan persetubuhan yang dilakukan AF selaku Pimpinan Pondok.
Baca Juga: MA Tetap Vonis Hukuman Mati Pemerkosa 13 Santriwati, Herry Wirawan: Kemenag Berharap Jadi Efek Jera
Menurut para pelapor, perilaku yang ditunjukkan Walid dalam serial Bidaah tidak jauh berbeda dengan pengalaman korban selama menjadi santri di Gunung Sari.
Salah satu modus yang dilakukan AF kepada korban sebelum menjalani aksinya, adalah dengan dalil akan menjanjikan Keberkahan Dalam Rahim.
Adapun hasil dari hubungan badani tersebut, menurut korban akan dapat melahirkan sosok Pemimpin Besar sehingga korban menurutinya.
Menindaklanjuti adanya laporan tersebut, kepolisian dari Polresta Mataram langsung melakukan pemeriksaan terhadap delapan santriwati yang diduga menjadi korban.
Buah dari pendalaman tersebut, kepolisian mendapati adanya jumlah korban lain sehingga perlu terus dilakukan langkah penyelidikan guna proses hukum.
Menurut Joko Jumadi selaku Ketua Lembaga Perlindungan Anak atau LPA Mataram, jumlah total santriwati yang menjadi korban perilaku menyimpang AF telah mencapai 22 orang.
Sehubungan dengan terkuaknya kasus pencabulan dan persetubuhan yang dilakukan oleh Pemimpin pondok terhadap para santriwatinya, ribuan warganet urun suara.
Baca Juga: Mas Bechi Terdakwa Pemerkosaan Santriwati di Pesantren Jombang Divonis Hakim 7 Tahun Penjara
Selain mempertanyakan secara terperinci terkait 5W dan 1H tentang peristiwa tersebut, warganet juga memberi dukungan moral kepada para korban.
Menurut ribuan warganet, setiap korban dari jenis tindak kejahatan yang bermotifkan perkara seksual harus mendapat perhatian dan dukungan.
Seluruh rasa takut dan malu yang diberikan pelaku kepada korban kejahatan seksual, harus segera dikembalikan kepada pelakunya.
Sehingga setiap korban dari kejahatan seksual bisa kembali menjalani kehidupan secara wajar, memiliki harapan dan kembali memperjuangkan kebahagiaan.
“Ayo yang merasa dilecehkan, sudah saatnya speak up dan beranikan diri kalian!” tulis pemilik akun firdaus.* yang disukai oleh ratusan warganet lainnya.***

Share this article
Walid Real Version! Belasan santriwati di Lombok mengaku telah mengalami tindak pencabulan yang dilakukan AF selaku Pimpinan Pondok.