AYOJAKARTA.COM - Jangan pernah asal-asalan dalam mengkonsumsi jajanan pinggir jalan.
Puluhan siswa SD di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat dikabarkan mengalami keracunan massal.
Kejadian tersebut tepatnya terjadi pada, Selasa (26/9/2023) di SDN 3 Jati, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat.
Baca Juga: KPU Bongkar Tingkah Manipulatif Caleg dalam Pileg 2024 Mendatang
Keracunan tersebut diakibatkan oleh jajanan Cimin atau Aci Mini yang mereka konsumsi.
Total 34 siswa SDN 3 Jati tersebut harus menjalani rawat inap di Puskesmas Saguling, Bandung Barat.
Hingga hari ini, Kamis (28/9/2023) kondisi siswa-siswa tersebut masih belum baik.
Dikabarkan pula ada satu siswa yang meninggal dunia akibat keracunan Cimin tersebut.
Karena siswa yang meninggal dunia itu memiliki penyakit penyerta.
Kepala Puskesmas Saguling mengatakan, kini para korban disebar di Puskesmas dan Rumah Sakit terdekat.
"Untuk kasus keracunan massal ini, yang dirawat di puskesmas 15 orang, rawat jalan 13 orang, di RSCK 1 orang, RS Kartini 3 orang, klinik Assyida 1 orang, dan di RS Dustira itu 1 orang. Jadi sampai hari ini ada 34 orang," ujar Burhan dikutip ayojakarta.com dari YouTube Investigasi tvOne.
Baca Juga: Tes IQ: Temukan 12 Wajah Tersembunyi dalam Gambar Ilusi Optik Ini Kurang dari 15 Detik
Kebanyakan dari mereka masih merasakan demam dan mual-mual akibat Cimin tersebut.
Para siswa SD itu juga banyak banyak kehilangan cairan hingga diare yang mengakibatkan lemas.
"Semuanya sudah ditangani, kita lakukan rehidrasi karena mereka banyak muntah dan diare. Tapi sebagian sudah membaik kondisinya," ucap Burhan.
Pihak Puskesmas sudah membawa sample Cimin yang dikonsumi para siswa SD tersebut.
Ada indikasi bahwa bumbu pedas yang ditaburkan pada Cimin itulah yang mengakibatkan keracan massal.
“Mereka yang mengonsumsi dengan taburan perasa pedas itu mengalami gejala mirip keracunan. Sedangkan yang tanpa perasa pedas, tidak mengalami gejala,” ujar Burhan.***

Share this article
Puluhan siswa SD di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat dikabarkan mengalami keracunan massal, ada yang meninggal?