AYOJAKARTA.COM -- Menjadi viral karena lumpunya semua pelayanan secara serentak baik di kantor cabang, ATM, hingga aplikasi m-banking, Bank BSI diisukan terkena serangan siber berupa ransomware.
Hal ini pun berimbas pada nasabah yang mengeluhkan tidak bisa menggunakan pelayanan bank tersebut sejak Senin, 8 Mei 2023.
Bahkan, dikutip melalui tren Twitter terbaru hingga Jumat malam, 12 Mei 2023 bank hasil merger tiga bank syariah tersebut tidak dapat digunakan untuk mentransfer atau top up saldo e-money meskipun pihak Bank BSI memberi klaim bahwa pelayanannya telah pulih.
Baca Juga: Alarm Serius! Layanan Sulit Diakses BSI Kena Serangan Siber, Kok Bisa Kebobolan? Ternyata…
Dikutip oleh AyoJakarta.com melalui kanal Youtube Metro TV pada 13 Mei 2023, Bank Syariah Indonesia (BSI) diduga mengalami serangan siber pada beberapa hari yang lalu.
Dirut BSI Hery Gunardi telah menegaskan bahwa prioritasnya adalah menjaga data dan dana nasabah agar tetap aman.
Menanggapi hal ini, Pakar Digital Forensik, Ruby Alamsyah mengungkapkan bahwa serangan Ransomware hanya menyerang sisi yang terakses oleh nasabah secara langsung, sedangkan transaksi dana dan data nasabah berada dalam sistem yang paling dalam dan dipastikan aman.
“Ransomware ini hanya menyerang User Interface (UI) atau tampilan dan pelayanan langsung di masyarakat, berupa error pada ATM atau aplikasi, sementara data dan dana yang ada di sistem bank tidak terdampak ransomware.” jelas Ruby Alamsyah.
Baca Juga: Layanan BSI Mulai Terpantau Normal, tapi Belum Sepenuhnya! Ini Penyebabnya
Serangan siber ini tidak hanya berdampak pada nasabah BSI, tapi juga membuat nasabah bank lain khawatir.
Selama empat hari terakhir, nasabah BSI yang hendak bertransaksi melalui mesin ATM mengalami gangguan karena hanya beberapa mesin ATM yang bisa digunakan dan transaksi juga dibatasi.
Namun, kondisi ini disebut berangsur normal, termasuk layanan BSI mobile, meskipun di media sosial banyak warga yang masih tidak bisa menggunakan BSI Mobile mereka seperti biasa.
Bahkan keluhan dan kekecewaan nasabah Bank BSI di Aceh menjadi viral karena hanya bank syariah yang diperbolehkan beroperasi di Aceh.
Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber, Pratama Persadha, mengingatkan bahwa saat ini terjadi tren peningkatan serangan Ransomware dan ia juga berpendapat bahwa ada jaringan internasional yang menargetkan sistem perusahaan.
Bahkan, grup Ransomware sudah mulai menyewakan malware mereka kepada pihak yang ingin melakukan penyerangan tetapi tidak memiliki kemampuan hacking.
Serangan Ransomware adalah salah satu jenis serangan siber yang paling berbahaya karena dapat menyandera data dan sistem perusahaan atau organisasi.
Biasanya, pelaku akan menuntut tebusan untuk mengembalikan akses ke data atau sistem tersebut.
Oleh karena itu, BSI dan perusahaan lainnya perlu meningkatkan keamanan sistem mereka. Pratama Persadha menyarankan untuk melakukan tindakan preventif, seperti meningkatkan keamanan jaringan dan melakukan backup data secara berkala.
Sebagai upaya pencegahan, BSI harus memastikan bahwa sistem keamanan mereka selalu diperbarui dan diperkuat.***(Zharifah Ardiana)
Share this article
Hal ini pun berimbas pada nasabah yang mengeluhkan tidak bisa menggunakan pelayanan bank tersebut sejak Senin, 8 Mei 2023.