AYOJAKARTA.COM - Resesi ekonomi baru dikhawatirkan akan terjadi di dunia tahun 2023, lantaran berbagai guncangan pada ekonomi global yang banyak terjadi di beberapa tahun terakhir.
Resesi ekonomi dapat terjadi jika pada dua kuartal berturut-turut pertumbuhan ekonomi berlangsung secara negatif.
Sebelumnya Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat (AS) sempat alami pertumbuhan negatif dalam 2 kuartal terakhir.
Baca Juga: Raditya Dika Ikut Tanggapi Soal Resesi 2023, Berikan Tips Untuk Lakukan Hal ini
Namun akhirnya pada kuartal ketiga menunjukkan kemajuan yakni menguat 2,6%.
Meskipun begitu Amerika Serikat belum bisa dikatakan terbebas dari ancaman resesi ekonomi.
"Ironisnya PDB AS saat ini tinggi karena banyak komoditas seperti makanan dan energi yang diekspor negara AS," ujar Paul Kim, CEO Simpifly EFTS dikutip AyoJakarta.com dari kanal YouTube MetroTVNews pada Senin (7/11/2022).
Baca Juga: Resesi Menghantui, Simak 5 Tips Agar Finansial Tetap Aman
Paul Kim mengatakan kenaikan PDB Amerika Serikat ini dinilai tidak wajar karena perusahaan pendorongnya sedang hancur-hancuran.
"Sehingga neraca perdagangan AS membuat PDB naik, tapi ini tidak wajar, karena perusahaan yang sebenarnya mendorong PDB AS secara mendasar termasuk properti, saat ini hancur-hancuran," jelas Paul Kim.
Menurut Analis Independen dan Institusi Ekonomi Global, resesi ekonomi di dunia kemungkinan akan terjadi pada 6 hingga 12 bulan kedepan.
Baca Juga: Resesi Ekonomi 2023 Akan Segera Terjadi: Apa Makna, Penyebab dan Dampaknya?
Menurut Ekonom Bank Dunia, kuatnya nilai tukar dollar dan suku bunga yang tinggi menjadi risiko terbesar.
"Temuan besar kami adalah akan menurunnya harga komoditas dibandingkan yang kita rasakan sejak awal tahun," John Baffes, Analis Bank Dunia.
Setelah dilakukan analisis, John Baffes memproyeksikan harga komoditas akan turun sedikit di tahun 2023.
Baca Juga: Para Ahli Ekonomi Beri Alarm Resesi Global, Apa Penyebabnya?
"Meski, harga komoditas domestik saat ini cukup tinggi karena kuatnya nilai tukar dollar, namun kami memproyeksikan harga komoditas akan turun sedikit tahun depan," ujar John Baffes.
Sejumlah negara Emerging Markets di Asia termasuk Indonesia dinilai cukup kebal menghadapi ancaman krisis global.
Bahkan Asia dijuluki dengan 'The Bright Spot' yakni kawasan yang gemilang di tengah kondisi ekonomi global yang sedang terpuruk.
Baca Juga: Para Ahli Ekonomi Beri Alarm Resesi Global, Apa Penyebabnya?
Menurut IMF, pertumbuhan ekonomi global diprediksi mencapai 2,7% sementara pertumbuhan ekonomi kawasan Asia-Pasifik lebih tinggi hingga 4,3% di tahun 2023.
Sejauh ini sejak 2021 hingga 2022, Indonesia dinilai menunjukkan kinerja yang baik seperti halnya negara India dan Vietnam.
"Indonesia adalah eksportir komoditas. Jadi tak seperti negara pengimpor komoditas, meningkatnya harga komoditas justru mengisi ekonomi Indonesia," ujar Sanjaya Panth, Wakil Direktur IMF Departemen Asia-Pasifik.
Baca Juga: China Dihantui Resesi Seks Mengikuti Amerika Serikat yang Sudah Lebih Dulu Mengalaminya, Kok Bisa?
Menurutnya, dengan penurunan harga komoditas di masa mendatang justru akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat.
"Jadi, penurunan harga komoditas di masa mendatang akan berdampak pada pertumbuhan Indonesia. Mengingat pentingnya pendapatan dari ekspor," ujar Sanjaya Panth.
"Tapi meski kondisi global menantang, Indonesia ada di posisi yang relatif aman," lanjut Sanjaya Panth.
Baca Juga: Indonesia Jatuh ke Jurang Resesi, Airlangga Optimistis Tren Ekonomi Positif
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto pada saat melakukan kunjungan ke Washington DC menyebutkan Indonesia sudah melakukan langkah yang tepat untuk menghadapi krisis global.
"Terkait dengan commodity price Indonesia mendapatkan windfall profits dari beberapa komoditas termasuk energi dalam hal ini batu bara kemudian minyak sawit," jelas Airlangga Hartarto.
Ia mengaku Indonesia telah melakukan strategi untuk menambah nilai komoditas pada besi dan baja.
Baca Juga: Kuartal III Minus 3,49%, Tanda Indonesia Jatuh ke Jurang Resesi
"Kemudian kita melakukan hilirisasi yang tepat di iron and steel di baja," ujar Airlangga Hartarto.
"Sehingga pada saat terjadi distruption supply chain, produk Indonesia yang masuk ke pasar. Jadi dengan demikian ada hal-hal yang Indonesia mendapatkan windfall di dalam situasi seperti sekarang ini," ujar Airlangga Hartarto.
Meski kebal dengan krisis ekonomi global, imbas dari pengetatan Bank Sentral Amerika Serikat dan Eropa, serta perlambatan ekonomi Tiongkok diperkirakan akan masih terasa oleh Indonesia.***

Share this article
Airlangga Hartarto menyebut bahwa Indonesia sudah menyiapkan strategi tepat untuk hadapi krisis global.