AYOJAKARTA.COM – Salah satu cara unik yang sering dilakukan masyarakat Indonesia setiap menyambut hari kemerdekaan pada 17 Agustus adalah Panjat Pinang.
Selalu membawa tawa dan kebahagiaan baik bagi peserta dan penonton, Panjat Pinang nyaris selalu hadir di momen hari kemerdekaan pada 17 Agustus.
Meski suasana dan kemeriahan hari kemerdekaan 17 Agustus cenderung semakin bertambah, Panjat Pinang ternyata menyimpan sejarah kelam bagi rakyat Indonesia.
Baca Juga: Batal Adu Kuat di Pilkada Jawa Barat, Ridwan Kamil Dapat Mandat Maju di Pilkada Jakarta 2024?
Berdasarkan hasil pengamatan sejarah dan budayawan Tionghoa, Panjat Pinang atau Kian Gu mulai pertama kali dikenal pada masa Dinasti Ming.
Dipercaya memiliki kaitan erat dengan penyelenggaraan kegiatan Festival Hantu, Kian Gu kemudian diperkenalkan oleh masyarakat Belanda di Indonesia.
Berbeda pada masa Dinasti Ming, Kian Gu yang kemudian dikenal masyarakat Indonesia dengan Panjat Pinang dibuat sebagai bentuk penghormatan terhadap Ratu Wilhelmina.
Sebagai bentuk rasa hormat terhadap Ratu Wilhelmina Helena Pauline Mariae Van Orange Nassau, pemerintah kolonial mewajibkan adanya acara festival pada setiap 31 Agustus.
Disamping menggelar acara festival dan beragam bentuk budaya, Panjat Pinang kemudian mulai diperkenalkan di Indonesia.
Tidak seperti acara-acara lainnya yang bisa diikuti oleh seluruh warga keturunan Arab, China, Eropa, khusus untuk Panjat Pinang pemerintah kolonial memberi aturan khusus.
Untuk diperkenankan mengikuti lomba Panjat Pinang, para peserta harus berasal dari kalangan Pribumi.
Karena persediaan bahan makanan seperti roti, keju, beras, gula dan kain di Tahun 1920-an terbilang langka dan mewah, Belanda menjadikan barang-barang tersebut sebagai hadiah.
Berada di podium penonton sambil menertawakan masyarakat pribumi yang berusaha menggapai hadiah, masyarakat Belanda sangat menikmati pertunjukan Panjat Pinang.
Karena dinilai tidak sesuai dengan budaya masyarakat Pribumi yang cenderung guyub dan egaliter, Panjat Pinang pada awalnya menuai kontroversi.
Kaum pribumi yang kesusahan karena mencari makanan dan mengejar kemewahan, dinilai sangat bertolak belakang dengan perilaku masyarakat Belanda.
Sebagian kelompok yang tidak setuju dengan Panjat Pinang menganggap acara tersebut sebagai bentuk pelecehan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Usai proses panjang dan kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, Panjat Pinang menemukan makna filosofisnya tersendiri.
Mengadaptasi corak budaya dan pemikiran masyarakat Indonesia, sudut pandang tentang Panjat Pinang mengalami pergeseran.
Sempat dianggap dan menjadi sebagai bentuk pelecehan dan perbudakan manusia di masa Belanda, gagasan tersebut berubah pasca kemerdekaan.
Panjat Pinang, bagi masyarakat Indonesia saat ini memiliki makna filosofis lebih mendalam dan menjadi simbol dari pentingnya bekerjasama untuk mencapai tujuan. ***

Share this article
Pernah dengar? sejarah kelam dari lomba 17 agustusan panjat pinang yang ternya berrasal dari Dinasti Ming.